Apa Yang Anda Dapatkan

informasi tentang masa-masa kehamilan anda, perkemabangan janin dalam tubuh anda. tumbuh kembang buah hati anda hingga berusia 3 tahun. hal-hal apa saja yang perlu anda perhatikan bagi anak anda. 3 tahun pertama kehiupan mereka akan menjadi masa-masa kritis yang menentukan masa depan mereka kelak.

Saya, Elka Anastasia

adalah seorang ibu dengan 3 putra berusia balita semua, ingin berbagi tentang masa kehamilan dan mengasuh ketiga 'jagoan' kecil saya. baik pengalaman pribadi maupun referensi yang saya dapatkan dari masa tumbuh kebang para 'jagoanku' di 3 tahun pertama kehidupan mereka. Semoga bermanfaat...

Showing posts with label batita. Show all posts
Showing posts with label batita. Show all posts

Gemar MEMBUNGKUS Inilah bekal untuk kemampuan menulis.

Kebanyakan anak batita memiliki "hobi" ini, yaitu bungkus-membungkus. Apa saja dibungkusnya, dari mainan miliknya sampai lipstik sang bunda. Kebiasaan ini lebih banyak disebabkan peniruan.
"Anak batita adalah peniru ulung," kata Tri Novida, Psi. Di rumah tanpa sadar misalnya, kita secara tak langsung mengajarkan hal itu saat membungkus kado untuk hadiah ulang tahun atau bingkisan lainnya.

Peniruan muncul karena anak pun sedang mengembangkan kemampuan motorik halusnya. Ia senang dan bangga mempraktikkan kemampuan baru apa pun termasuk membungkus. Bagaimana sebuah benda yang tadinya ada kini tidak tampak di balik pembungkusnya. Anak jelas senang melihat akibat dari pekerjaannya. Belum lagi respons dari lingkungan yang cenderung mendukung. Anak pun jadi ingin mengulang-ulang kebiasaan itu.

CARA MENGARAHKAN
Intinya, kegemaran membungkusi barang adalah hal positif. Karenanya, tak perlu dilarang. "Justru harus diarahkan!" tambah psikolog dari Aditya Medical Centre ini mengingat manfaatnya. Yang pertama, kemampuan motorik halus anak lebih terasah. Anak terbiasa mengoordinasikan jari agar benda itu terbungkus seluruhnya. Kemampuan ini sangat penting saat anak mendapat pelajaran menulis nanti. Bahkan, kemampuan ini harus dipupuk agar terus berkembang.

Hingga saat anak menginjak taman kanak-kanak, dia bisa meningkatkan kemampuan motorik halusnya. Yang asalnya cuma mengremesi benda kecil, kemudian jadi membungkus kado dengan rapi. Di beberapa sekolah, anak diajarkan bagaimana cara membungkus kado, menggunting pita, dan lain-lain. Keterampilan itu sangat digemari.

Manfaat kedua, kreativitas anak lebih berkembang. Ia bisa mengetahui, ternyata mainannya bisa diubah bentuknya lewat kertas koran. Kreativitas ini sangat diperlukan saat anak beranjak besar nanti. Anak tidak kaku dalam memandang sesuatu. Ia juga pandai mencari celah sehingga bisa mengubah benda biasa menjadi berguna, dan sebagainya.

Memang, perilaku ini bisa membuat ruangan kotor. Tempat bermain anak dipenuhi serakan tisu dan robekan koran. Meski begitu, jangan sekali-kali melarang atau memaksa anak untuk membersihkannya. Alih-alih menurut, paling-paling ia menolak. Makin dipaksa, makin memberontak.

Yang dapat dilakukan orangtua adalah meminimalkan kekacauan yang terjadi di rumah. Cobalah untuk memfasilitasi dan mengarahkannya, misal, dengan menyediakan koran bekas untuk kegiatan bungkus-membungkus. Juga, sediakan benda-benda apa saja yang boleh dibungkus. Namun, beberapa pernak-pernik milik orangtua, harus disimpan rapi dan diletakkan di tempat yang tak terjangkau anak. Batasi juga mainan yang hendak dibungkus dengan memberikan beberapa mainan saja kepada anak. Dengan begitu, orangtua membatasi tanpa perlu mengekang kreativitas anak.

Lebih baik lagi jika kebiasaan itu dibuat lebih kreatif agar kecerdasan imajinasi anak makin berkembang. Umpama, anak membayangkan sebagai penjual mainan sementara pengasuh atau orangtua sebagai pembelinya. Lakukan transaksi layaknya jual beli di pasar, "Ibu beli satu ya, Bang." Berikan beberapa lembar uang (dari koran) kepada anak, dibarengi penyerahan bungkusan mainan. Dengan begitu, acara bungkus-membungkus jadi lebih bermanfaat. Anak bisa berimajinasi sebagai penjual, disamping dia juga mengetahui adanya uang sebagai alat pembayaran.

Selain kemampuan berbicara anak juga lebih terasah. Mungkin saja anak tidak melakukan dialog, tapi setidaknya anak bisa menangkap dan memahami perkataan orangtuanya. Agar kemampuan sosialisasi anak ikut bertambah, cobalah ajak beberapa temannya untuk melakukan kegiatan bungkus-membungkus. Biasanya anak lebih senang dan menikmati kegiatannya.

Usai main bungkus-membungkus, minta anak membuka bungkusan itu. Dengan membungkus dan membuka, niscaya kemampuan motorik halus anak makin terasah. Tak kalah penting, ajar anak untuk membereskan mainannya kembali. Tentu bukan dengan sekonyong-konyong menyuruh anak membereskan mainan, melainkan melalui ajakan, "Yuk, kita bereskan mainan itu bersama, Ibu masukkan ini ke wadah, Adek masukkan mainan yang itu ya." Dengan begitu, anak tak merasa dipaksa dan mau menuruti apa yang Anda minta.

bye bye diapers part 1

Bayi mungil Anda sudah semakin besar! Ia kini telah pandai melakukan banyak hal, mulai dari berjalan, berlari, bicara, serta mengunyah makanannya dengan lahap. Dan sebentar lagi, ia juga bisa melepaskan celananya sendiri untuk pergi ke belakang!

Tapi rupanya, tidak semua kepandaian si kecil bisa didapat dengan mulus, karena nyatanya hal yang terakhir disebut kerap menjadi problem bagi para ibu. Jackie Walsh, ahli kesehatan dari M&B Inggris menilai, orang tua menjadi stres karena mereka mencoba melakukan itu sebelum anak mereka siap. “Jika mau berhasil, kuncinya adalah menunggu sampai anak Anda menunjukkan kalau dirinya sudah siap,” katanya. “Mungkin Anda mendapat tekanan dari keluarga untuk melatih si kecil sedini mungkin, tapi cuma anak Andalah yang tahu kapan ia mau dan mampu. Jika Anda memaksa, padahal si kecil belum siap, maka ia akan gagal. Dan kegagalan itu akan membuat Anda berdua sama-sama kesal.”

Sudah Siap Atau Belum?

Jadi bagaimana Anda tahu anak Anda siap atau tidak? “Tanda paling penting adalah, anak Anda menunjukkan bahwa ia sadar kalau ia ingin pipis atau buang air besar,” kata Jackie. “Dia mungkin akan mengatakannya pada Anda, atau Anda bisa melihat dari perilakunya, misalnya saja, tiba-tiba si kecil memegang-megang popoknya.”

Kemampuan untuk mengontrol kerja usus dan kandung kemih tidak secara langsung dimiliki oleh anak Anda, dan Anda juga tidak bisa memburu-burunya dalam hal ini. Jadi usia tidak benar-benar menjadi patokan. Jika Anda ingin mulai mencobanya, umur 18 bulan sampai 4 tahun adalah waktu yang normal untuk mengajari anak Anda pergi ke belakang.

Kapan Dimulai

Jika anak Anda sudah siap, pilih waktunya dengan hati-hati. “Anda butuh konsentrasi pada latihan ini, tapi juga tetap santai menjalaninya,” kata Jackie Walsh. Mencoba untuk melakukan latihan yang tepat waktu plus memberikan deadline malah akan membuat Anda dan si kecil stres!

Iklim di Indonesia yang panas sangat baik untuk melakukan latihan ini. Anda dan si kecil bisa melakukan kegiatan luar rumah yang menyenangkan seperti berlari-lari atau main air di halaman, sehingga tak masalah jika sewaktu-sewaktu terjadi ‘kecelakaan’ pipis atau BAB di celana. Pakaikan juga si kecil pakaian yang longgar dan ringan, sehingga Anda lebih mudah menggantinya.

Yang Anda Butuhkan

* Kloset mini
* Beberapa potong celana (kurang lebih 8 potong)
* Pakaian yang mudah dilepas
* Dudukan kloset untuk anak-anak
* Buku-buku atau video yang bisa membuatnya tenang di kloset mininya
* Handuk

bye bye diapers part 2

Sebelum Mulai

Sebelum Anda mulai, beri si kecil Anda gambaran tentang kegiatan yang akan dilakukannya. Biarkan ia melihat Anda menggunakan kloset sehingga ia merasa nyaman dengan itu. “Anda juga bisa mengajak anak Anda pergi ke pertokoan untuk membeli dan memilih sendiri celana baru untuknya, sebelum latihan dimulai,” kata Jackie Walsh. “Dia akan bangga dengan celana barunya dan hal itu bisa memotivasinya dalam latihan nanti.”

Latihan Dimulai!

Bicarakan rencana yang hendak Anda lakukan pada anak Anda, dan pastikan ia senang dengan ide tersebut. Di hari pertama, pakaikan ia celana barunya, lalu tunjukkan kloset mininya dan katakan ia bisa duduk di situ jika ia ingin pipis atau buang air besar. Ketika ia memakai kloset itu, tunjukkan bagaimana cara membersihkan dirinya (dari depan ke belakang untuk anak perempuan, agar bakteri dari bokong tidak tersebar ke vagina) dan basuh serta keringkan tangannya setiap kali selesai.

Ingatkan anak Anda untuk menggunakan kloset sebelum makan dan sebelum ia pergi keluar rumah. Tapi jika selama beberapa jam ia belum juga melakukannya, Anda tak perlu memarahinya. “Beri kesempatan anak Anda untuk mengetahui bahwa ia punya kontrol yang besar pada dirinya sendiri, dan ia bisa melakukannya kapan pun ia ingin,” kata Jackie.

Hibur Dia

“Beri anak Anda banyak penghargaan saat latihan, bahkan bila ia hanya sedikit sekali buang air di klosetnya,” kata Jackie Walsh. Saat ia bisa melakukannya sendiri untuk pertama kalinya, beritahu sang ayah, nenek, kakek atau om dan tantenya untuk mengabarkan berita penting itu.

Hindari memberi komentar negatif. “Ingat, bahwa anak Anda benar-benar ingin menyenangkan hati Anda,” kata Jackie. “Dan yang Anda ‘tuntut’ darinya adalah sesuatu yang tak dapat dikontrolnya dengan mudah. Jadi Anda harus bersabar.”

Kecelakaan

Ketika Anda kembali melihat noda cokelat di celana si kecil saat latihan, mungkin Anda sempat berpikir memakaikan anak Anda popok kembali akan membuat semua ini menjadi lebih mudah. Inilah waktunya Anda menarik napas dalam, tersenyum, dan berkata,” Tak apa-apa. Lain kali kamu lakukan ini di kloset ya, sayang.” Anak Anda mungkin akan kesal akan ‘kecelakaan’ yang dibuatnya, tapi Anda harus meyakinkannya kalau itu bukanlah masalah besar.

“Kadang-kadang sangat sulit untuk bersikap sabar, jadi jika Anda merasa ingin marah pada kecelakaan macam itu, lebih baik tinggalkan latihan ini untuk sementara,” kata Jackie. “Dengan tenang katakan pada anak Anda kalau Anda akan mencobanya lagi lain waktu.” Jika Anda mencoba selama seminggu atau lebih dan anak Anda lagi-lagi mengompol atau buang air besar di celana, berarti anak Anda memang belum benar-benar siap. Jika demikian, sudahi usaha Anda, dan lakukanlah lagi beberapa bulan mendatang.

Malam Hari

Anak Anda mungkin akan tetap membutuhkan popoknya di malam hari (dan untuk waktu tidur siang setelah seharian ia berhasil tidak pipis/BAB di celana). Tunggu sampai ia bangun dan lihat apakah popoknya tetap kering, jika ya, teruskan malam itu tetap dengan mengenakan popok tersebut, sebelum Anda dapat memakaikannya celana di malam hari.

Jika Bepergian

Selama latihan berlangsung, akan lebih baik jika Anda tinggal di rumah, paling tidak selama 1-2 minggu pertama. Tapi kadang ada saja saat-saat Anda harus meninggalkan rumah bersama si kecil. Untuk itu, persiapkan perangkat ‘kecelakaaan’ seperti beberapa baju ganti, tisu basah, handuk kertas dan kantong sampah, ke manapun Anda pergi. Untuk perjalanan yang singkat, cukup pastikan kalau anak Anda sudah ke toilet sebelum Anda berdua berangkat.

Jika Anda harus membawa anak Anda dalam perjalanan yang cukup lama, Anda pasti tergoda untuk kembali memakaikannya popok. Tidak apa-apa. Tapi beritahu anak Anda untuk menganggap popok itu sebagai celananya, dan tetap gunakan toilet jika memungkinkan.

Pengasuh Anak

Jika Anda wanita bekerja dan sehari-hari anak Anda lebih banyak bersama pengasuhnya, bicarakan dari awal mengenai latihan ini kepada sang pengasuh. Akan lebih baik jika Anda melakukan latihan ini pada akhir minggu. Jadi Anda punya kesempatan untuk melihat bagaimana anak Anda menjalaninya, dan Anda dapat mendiskusikan perkembangannya nanti pada pengasuhnya.

Baby Sign, the teaching of sign language to hearing babies. Why? When? How?

by Kay Green, www.MyPreciousKid.com

I have always had an interest in sign language since knowing my deaf aunt and uncle as a little girl. I myself know a little sign for worship at church. I read about the new idea of teaching sign to hearing babies and immediately knew I would like to do that with Haley. My adopted daughter will be 1 year old on Tuesday.

I admit I did not teach sign to my 3 teenagers when they were babies. However with baby number 4 in my home and with me at age 40, there are a lot of things I do differently this time around.

Sign language for babies uses a different part of the brain than speech. Studies have shown that these babies who learn sign are less frustrated because they can express their wants and needs. It also says that these babies are actually ahead, not delayed, in speech development. Babies are able to do many signs before they can speak the words.

Our babies all do some signs without us even thinking about it. They wave Hi and bye-bye. They point to things they want. They make animal signs or sounds. Haley loves to do fish lips and blows kisses, nod yes and no. When your baby starts learning to wave it is a perfect time to begin teaching other signs.

When Haley was about 8-9 months old and could wave I started showing a few signs consistently. Milk, more, kitty, all done. I remember well the day Haley got the sign for MORE (fingers tips together in front of your chest). She has always been very verbal and clear about what she wants. That usually meant yelling at you. I was working on the computer. I had a bag of baby cookies. She would have one, then come back and scream indicating she wanted another and I gave it to her. After 5 or 6 times I thought "Wow, I am teaching her to scream for what she wants." The next time she came I said "MORE?" and did the sign with my fingers. I repeated that for several times. Then the next time I did it with her fingers and said the word. We did that a couple times. Then she came up and did the sign the next time, without screaming. YEAH! Success! That was way too easy. I realize how quickly she got it and started showing her other signs.

At What Age Does My Infant become a Toddler?

With all the stages your new child goes through, it is often difficult to pinpoint when they move from one to the next. The stages are classified by what happens to the child mentally, intellectually and socially. Certain skills are developed in each of these stages and it is important to know where your child stands. Development in the early years is very important. It is always good to know where your child stands emotionally and developmentally.

An infant becomes a toddler at the age of one. The toddler stage occurs between the ages of one and two. During this time, mobility becomes increasingly more noticeable. Independence becomes identified and defiance is normal. Toddlers begin to recognize themselves when shown pictures or placed in front of a mirror. They also begin to mimic the behavior of those around them.

During this year, children will gain approximately three to five pounds. The new mobility that babies implement during this year make their outward appearances seem more like a small child and less like a baby. Faces become less round and arms and legs become more defined. By the end of the toddler stage, most children are walking, running, and jumping. At first walking may be clumsy, but as a child ends his or her toddler stage this usually subsides.

Children in the toddler stage think they are the center of everything. They can often be grumpy when forced to do things they don’t like or want. They begin to become more interested in their surroundings and touching or getting into EVERYTHING is not abnormal. Toddlers may begin to suffer from separation, this usually coincides with walking.

The toddler stage may be somewhat difficult. Most toddlers begin to develop a strong sense of self. They can also be easily upset. Make sure to stay patient with your child. This stage is extremely important for developing spatial skills and people skills. Although it may be difficult to get your toddler to understand the concept of sharing, make sure to keep them involved with others their age. Read to your toddler and show them lots of pictures. This period in a child’s life is very important for development, make sure to stay engaged no matter how difficult it may be. This will, in turn, make it easier for them as they continue growing and maturing.

Are There Risks I Should Be Aware of Before Becoming a Babysitter?

Babysitting can be an extremely rewarding job, especially for a young person who is looking to earn a little extra spending cash. In addition, working with children can be a fun and exciting experience. However, there are some important and serious issues to think about before becoming a babysitter.

The biggest risk in babysitting is that something disastrous will happen while you are caring for children. While not every accident can be avoided, if you are safety-conscious and being prepared, you can avoid many of these types of disasters. Some important safety tips while babysitting include:

- Keep doors and windows shut and locked while you are babysitting. Don’t open the door to a stranger.

- Make sure that TV or musical appliances are not turned up so loud that you can’t hear a crying child.

- Keep dangerous items out of reach of children.

- Watch out for plastic bags, pillows, cushions, and other items that could cause a small child to be smothered.

- Know where exits are located.

- Know where the children are at all times. Whenever possible, try to keep them within sight. Never leave them unattended.

- Take the time and care to do things safely.

- Be prepared to administer first aid. Organizations such as the American Red Cross offer training in first aid as well as infant and child CPR. Taking these courses can also make you more marketable as a babysitter.

- If you are babysitting a small child, make sure that he is keeping small objects out of his mouth.

- Make sure that the children are playing with age-appropriate toys.

- Be prepared for an emergency. Know where the emergency numbers are located, and familiarize yourself with the familys emergency plans if they have them.

You should also try to familiarize yourself with any state or local laws regarding child care. Some states require that you be a certain age to baby-sit, and some localities may even require a license or a training course of some sort.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA

Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit. Caranya dengan rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.

Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi dan balita relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit anak lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural kulit bayi dan balita belum berkembang dan berfungsi optimal sehingga diperlukan perawatan khusus.

Perawatan yang lebih menekankan pada pemeliharaan kulit ketimbang dekorasi ini diharapkan bisa meningkatkan fungsi utama kulit sebagai pelindung dari pengaruh luar tubuh. Perawatan kulit bayi dan balita bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari.

Misalnya dengan memandikan secara teratur, membersihkan rambut, dan mengganti popok atau baju pada saat tepat. Mandi misalnya, diwajibkan dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam memandikan, perhatikan hal-hal berikut: suhu air disesuaikan dengan umur anak, gunakan sabun bayi yang lunak, gunakan sampo bayi untuk membersihkan rambut, keringkan badan dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit, dan berikan bedak dengan sapuan tipis.

Soal pakaian bayi sebaiknya dari bahan lembut dan selalu bersih. Dengan memperhatikan pakaian yang digunakan berarti kita telah berupaya menghindari timbulnya gangguan. Pada sebagian anak penggunaan pakaian berbahan nilon atau wol bisa menimbulkan gatal-gatal di seluruh tubuh. Bahan katun yang gampang menyerap keringat haruslah menjadi pilihan pertama bagi anak berkulit peka.

Pemeliharaan kulit itu bisa dilakukan dengan menggunakan bermacam kosmetika bayi yang beredar saat ini. Sebagian berfungsi untuk membersihkan kulit misalnya sabun dan sampo; melembapkan dan pelindung terhadap sinar matahari seperti losion, krim, dan minyak khusus.

Penggunaan kosmetika berupa sabun, sampo, losion, minyak khusus untuk bayi perlu dipilih yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi kulit bayi. Misalnya dengan mencermati zat warna dan bahan-bahan pengawet yang mungkin saja tidak sesuai dengan kulit bayi. Juga apakah pH-nya sesuai dengan kulit bayi.

Memilih dan menggunakan kosmetika pada bayi dan balita secara benar dan tidak berlebihan merupakan langkah utama menjaga kesehatan kulit. Oleh karena itu, banyaknya informasi tentang produk kosmetika bayi dan balita dewasa ini harus lebih dicermati oleh orang tua.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA 1

Eksim popok
Selain perawatan kulit rutin, para orang tua perlu memperhatikan perawatan kulit yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orang tua.

Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.

Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari.

Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam faeces bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak begini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Usap semua bekas faeces dari badannya, balur dengan krim pelindung. Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari.

Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi. Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin.

Sebelum pemakaian popok usapkan krim pelindung kulit. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida - jamur yang biasa muncul di usus. Dalam hal itu periksakan ke dokter, yang mungkin memberi krim khusus dan juga obat khusus untuk melawan infeksinya. Soal pilihan penggunaan popok kain atau popok sekali pakai tak jadi soal. Dari segi kesehatan keduanya sama-sama sehat. Yang penting jangan sampai terlambat mengganti.

Untuk popok kain tentu harus segera diganti bila terlihat basah. Tetapi untuk popok sekali pakai frekuensi penggantiannya didasarkan atas daya tampungnya. Misalnya dengan melihat apakah popok sekali pakai itu sudah tampak menggelembung atau menggantung. Jika sudah, maka harus segera diganti.

Setiap kali akan mengganti popok, bagian pantat bayi dan sekitarnya harus dibasahi. Kemudian bagian tadi dikeringkan, baru diberi bedak. Sering dianjurkan pemakaian baby oil pada bagian ini, untuk menjaga air seni tidak mudah meresap ke dalam kulit. Tentu saja baby oil ini harus diteteskan lebih dulu pada segumpal kapas.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA 2

Pada bayi perempuan, membersihkannya harus dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. Sedangkan pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah.

Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penting dicatat pula, bahwa dari berbagai penelitian terbukti bukan air susu ibu (ASI) penyebabnya. Bahkan, ASI sendiri mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi.
Namun, nama eksim susu telah telanjur melekat sehingga tetap dipertahankan. Sementara istilah kedokterannya adalah dermatitis atopik (eksim di tempat yang tidak biasanya).

Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.

Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering.

Biang keringat
Biang keringat juga merupakan keluhan umum yang sering ditemukan pada bayi dan balita. Biang keringat atau sering disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian. Gejala utama adalah gatal, dapat disertai kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil. Penyakit ini biasa kambuh berulang, terutama bila udara panas dan berkeringat, sehingga menimbulkan masalah pada bayi, balita, maupun orang tua. Penyakit ini dapat dicegah dengan perawatan rutin, misalnya mandi dengan teratur dan membasuh anak yang berkeringat dengan lap basah sebelum dikeringkan dan diberi bedak.

Seringkali terjadi bintik-bintik merah (ruam) pada leher dan ketiak bayi. Keadaan ini disebabkan oleh peradangan kulit pada bagian tersebut. Bisa disebabkan karena bagian ini tidak kering betul ketika dilap dengan handuk sehabis memandikannya. Apalagi jika si bayi gemuk, sehingga leher dan ketiaknya berlipat-lipat.

Ruangan dengan ventilasi udara cukup sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam ruangan lancar. Dari kasus-kasus biang keringat pada bayi dan balita, hampir 70% nya bisa diatasi bila pergerakan udara dalam ruangan lancar sehingga kamar terasa sejuk.

Lepas dari soal kesehatan, perawatan kulit pada bayi dan balita sebenarnya mengekspresikan rasa cinta orang tua kepada buah hatinya. Sentuhan mereka akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seorang anak. (G. Sujayanto)

Mengajak si kecil ke dokter

Untuk melakukan imunisasi, maupun untuk mengobati bayi dan balita yang sedang sakit, kadang-kadang diperlukan ‘perjuangan’ yang lumayan berat. Bagi bunda yang buah hatinya masih bayi, membawa anak ke dokter tidak sulit. Namun, balita yang beranjak besar biasanya mengerti bahwa ia akan dibawa ke dokter. Reaksi masing-masing tentu berbeda, namun takut dan enggan umumnya adalah perilaku yang sering ditemui.

Lantas, bagaimana caranya supaya si kecil merasa nyaman dibawa pergi ke dokter? Menurut Dr. Katie Lawhead, spesialis anak dari Children’s Medical Center Child Life di Medical College of Georgia, Amerika Serikat, kunjungan ke dokter sebaiknya digambarkan sebagai suatu petualangan yang mengasyikkan.

Karena itu, menakut-nakuti anak dengan mengatakan, “Awas, nanti kamu dibawa ke dokter!” ketika balita sedang melakukan kenakalan adalah suatu hal yang harus dihindari. Sebab, kalimat ini justru bernada negatif alias menunjukkan bahwa pergi ke dokter adalah sesuatu yang akan terjadi bila ia nakal.

Oleh karena itu, kunjungan ke dokter sebaiknya dideskripsikan sebagai suatu perjalanan yang bernilai positif. Selain itu, balita juga perlu diberi gambaran bahwa dokter adalah sosok yang baik hati dan mau membantu anak-anak untuk sembuh dari penyakitnya.

Tip lain agar anak tidak takut melakukan kunjungan ke dpkter adalah:
Memberi penjelasan kepada si kecil mengapa harus berkunjung ke dokter dan apa saja yang akan dilakukan dokter.

Sesekali, ketika anak tidak sakit, ajak dia ke ruang praktek dokter atau rumah sakit dan carilah sesuatu yang membuat dia senang, misalnya gambar-gambar lucu di dinding, atau alat mengukur tinggi badan, dan sebagainya.

Kalau diizinkan dokter, ketika anak sedang diperiksa, biarkan ia memegang peralatan dokter yang tidak berbahaya, umpamanya stetoskop dan jelaskan fungsinya. Anda juga bisa meminta dokter anak yang memberi penjelasan.
Izinkan si kecil membawa boneka kesayangannya bila perlu.

Kalau harus disuntik, ungkapkan bahwa menyuntik adalah suatu cara untuk memasukkan obat ke dalam tubuh, dan bekerja secara cepat. Jangan berbohong dengan mengatakan suntik itu tidak sakit. Sebaliknya, katakana bahwa disuntik memang sakit, tapi hanya sebentar sekali. Bila ia takut, katakan bahwa Anda akan memeluknya erat-erat.

Ketika dokter melakukan tindakan dan si kecil terkesan ketakutan, alihkan perhatiannya kepada hal-hal yang lucu, umpamanya gambar bebek berbaris di dinding ataupun ikan di akuarium yang berada di kamar praktek dokter anak. Dokter anak yang cerdas kerap menghiasi dinding ruang prakteknya dengan hal-hal yang mengesankan dan menyenangkan anak.Bila si kecil ‘lulus’ dan telah diperiksa dokter, berikan ia reward, baik itu pujian maupun hadiah lain yang disukainya. (hannie)

Kapan Bayi Mulai Menyantap Makanan Padat?

Kehadiran seorang bayi tentu membawa kehangatan dan kebahagiaan di rumah Anda. Seiring dengan itu, tanggung jawab dan kerepotan setiap pasangan, terutama bunda, semakin bertambah. Dari mulai menyusui, memandikan, menidurkan, memberi prasarana dan sarana bagi kenyamanan dan keamanan bayi, sampai juga mempersiapkan masa depannya.

Beberapa waktu lalu, bayi mulai diberi makanan padat ketika berusia 4 bulan. Namun, merujuk kepada standar WHO (World Health Organization), disarankan agar bayi baru mulai diberi makanan padat setelah usianya menginjak 6 bulan. Mengapa?

Ada beberapa alasan mengapa pemberian makanan padat ditunda. Menurut Dr. William Sears dalam bukunya The Baby Book, di bulan-bulan awal, bayi memiliki refleks ‘penolakan lidah’ yang menyebabkan lidah secara otomatis menjulur ke luar saat ada sesuatu ditaruh di atasnya.

Hal ini merupakan refleks proteksi terhadap kemungkinan tersedak makanan padat yang diberikan terlalu awal. Antara usia 4-6 bulan, refleks ini menurun. Juga, sebelum bayi berusia 6 bulan, sebagian bayi belum memiliki koordinasi gerakan lidah dan menelan yang baik untuk makanan padat.

Bukan saja bagian atas pencernaan bayi tidak dirancang untuk makanan padat yang diberikan terlalu awal, tapi begitu pula halnya dengan usus bayi. Ususnya belum matang, tidak dilengkapi kemampuan untuk menangani berbagai macam makanan sampai ia mencapai usia 6 bulan, saat enzim pencernaan mulai bekerja.

Teristimewa bila bayi menderita alergi. Riset membuktikan bahwa pemberian makanan padat yang dimulai sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko alergi. Usus yang telah matang akan mengeluarkan immunoglobulin protein IgA, yang melapisi usus dan mencegah lewatnya protein allergen yang berbahaya (susu sapi, gandum, dan kacang kedelai adalah contoh umum dari makanan yang menyebabkan alergi bila diberikan terlalu dini).

Bayi dikatakan siap makan bila ia mulai meraih makanan di dekat piring Anda atau siapa pun yang berada di dekatnya. Mungkin saja ia akan berusaha merebut sendok makan, memandang bundanya dengan mimik lapar, dan membuka mulutnya lebar-lebar saat orang lain sedang menyuap.

Untuk makanan padat yang pertama, sangat disarankan agar Anda menyeleksi dengan ketat makanan yang akan diberikan. Mulailah dengan makanan padat yang paling tidak menimbulkan alergi, dan yang cita rasanya mirip dengan ASI. Contoh-contoh makanan padat pertama yang paling disukai adalah pisang matang yang dilumatkan, atau seral yang dicampur dengan ASI atau susu formula.

Makanan yang paling mungkin menimbulkan alergi adalah:

1. kelapa 9. tomat
2. selai kacang 10. kacang-kacangan
3. buncis 11. kulit ikan
4. gandum 12. daging babi
5. produk-olahan-berbahan-susu 13. kedelai
6. gula 14. jagung
7. cokelat 15. putih telur
8. buah-buahan asam


Sedangkan makanan yang paling tidak mungkin menimbulkan alergi adalah:
1. apel 11. pepaya
2. mangga 12. kismis
3. avokad 13. daging ayam
4. brokoli 14. ikan salmon
5. kurma 15. madu
6. labu 16. kentang manis
7. daging kambing 17. gandum
8. daging lembu muda 18. beras
9. selada 19. wortel
10. asparagus 20. anggur

Aman di Jalan dengan Car Seat

Jika Anda harus membawa bayi kecil Anda di dalam mobil, sudah saatnya Anda melindunginya dengan car seat. Inilah panduan lengkap cara penggunaannya.Sekilas, bukan hal yang sulit untuk membawa si kecil sambil melaju dalam mobil.

Itulah, pemandangan khas yang bisa kita saksikan di Indonesia.

Kebanyakan orang tua tak merasa perlu berpusing-pusing berpikir bagaimana caranya menjaga keamanan si kecil selama berkendara. Toh, anak bisa digendong atau dipangku.Masalahnya, cara seperti itu sama sekali tidak aman.

Sadarkah Anda, cara itu sebenarnya hanya menjadikan tubuh si kecil itu menjadi bumper orang yang menggendong atau memangkunya?

Ketika terjadi kecelakaan, hentakan yang keras dari benturan mobil dapat membuat tubuh anak terjepit tubuh orang dewasa yang menggendongnya, atau ia justru akan terlempar ke depan.

Yang gawat adalah bila kaca depan pecah. Ia bisa langsung terlontar keluar melalui kaca yang pecah itu. Sekedar menggunakan sabuk pengaman ( seat belt ) juga bukan jawaban, karena sabuk ini tidak dirancang untuk tubuh anak-anak, yang berisiko tercekik.

Karena itulah Anda harus menggunakan kursi khusus buat anak, yang biasa disebut car seat. Kursi ini bisa dipasang dan ditarik, jadi tidak menempel permanen ke mobil. Anda juga bisa menggunakannya ketika naik taksi.

Car seat adalah alat krusial untuk mengamankan anak dalam mobil. Bukan itu saja. Dengan melatihnya duduk sendiri di dalam mobil, sebenarnya Anda melatih kemandirian si kecil disamping membuatnya nyaman selama perjalanan.

Masih belum yakin?

Perhatikan saja kutipan berikut ini. Dalam situs www.aap.org disebutkan, sepanjang tahun 2000, sekitar 539 anak berusia di bawah 5 tahun di Amerika Serikat tewas dalam kecelakaan mobil. Terjadinya kecelakaan ini hanya karena tubuh mereka sama sekali tidak terikat atau tidak terikat dengan benar ke car seatnya.

Beda usia, beda car seatBerdasarkan jenisnya, car seat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
- Infant car seat, yakni kursi mobil khusus untuk bayi usia 0-1 tahun dengan berat badan maksimal 10 kg.
- Toddler car seat khusus untuk anak usia 1–4 tahun dengan berat badan antara 10–20 kg.
- Young children car seat adalah kursi khusus untuk anak usia 4–8 tahun dengan berat badan lebih dari 20 kg.

Laila Andaryani Hadis

Makanan Tepat Selama Menyusui Bayi

Kehadiran seorang bayi tentu membawa kehangatan dan kebahagiaan di rumah Anda. Seiring dengan itu, tanggung jawab dan kerepotan setiap pasangan, terutama bunda, semakin bertambah. Dari mulai menyusui, memandikan, menidurkan, memberi prasarana dan sarana bagi kenyamanan dan keamanan bayi, sampai juga mempersiapkan masa depannya.

Di samping perawatan bayi, yang juga sangat penting adalah merawat kesehatan bunda. Sebab, kesehatan bayi sedikit banyak juga tergantung pada kondisi ibunya. Demikian pula dengan asupan makanannya, terutama bagi ibu yang menyusui. ASI yang diberikan ibu memang berkualitas dan sangat berguna bagi kesehatan dan tumbuh kembang bayi, namun mutunya tetap harus dijaga.

Santapan yang sebaiknya dikonsumsi para bunda yang sedang menyusui harus mengandung makanan bergizi, namun dalam jumlah yang lebih banyak. Menurut Dr. William Sears dalam bukunya The Baby Book, bila Anda menyantap makanan yang baik untuk Anda, Anda akan memiliki lebih banyak energi dan merasa lebih baik, seperti pada masa nifas dan saat stres karena menjadi ibu baru.

Untuk gizi seimbang, Dr. Sears menyarankan kelima kelompok makanan dasar ini:
1. kelompok nasi, serealia, roti gandum, atau pasta
2.kelompok sayuran
3. kelompok buah-buahan
4. kelompok ikan, daging, unggas, kacang kering, telur, dan kacang
5. kelompok susu, yoghurt, dan keju.

Selain itu, konsumsilah makanan dari masing-masing kelompok tersebut sambil memerhatikan tiga kelompok dasar kalori:
1. Karbohidrat, harus terdapat dalam 50-55 persen dari total kalori harian, dan porsi utama dari sumber energi ini harus dalam bentuk gula sehat, terutama biji-bijian, nasi atau pasta, dan buah.
2.Lemak yang menyehatkan, yang harus terdapat dalam 30 persen dari total kalori harian.
3. Protein, harus terdapat dalam 15-20 persen dari total kalori harian.

Yang juga perlu ditambahkan ke dalam menu makanan ibu menyusui adalah:
1. Kalsium. Anda memerlukan banyak kalsium selama kehamilan dan masa menyusui. Penelitian menunjukkan bahwa kalsium yang diambil dari tulang ibu selama masa menyusui akan kembali selama dan setelah masa penyapihan, dengan kepadatan tulang yang lebih baik dibandingkan sebelum masa kehamilan.

Bila Anda tidak suka minum susu, atau alergi ketika meminumnya, gantikan dengan makanan nonsusu kaya kalsium seperti ikan sarden, kacang kedelai, brokoli, buncis, ikan salmon, tahu, daun-daunan hijau, kangkung, manisan anggur, dan jus wortel. Tambahkan juga keju dan yoghurt bila Anda tidak alergi.

2. Zat besi. Asupan makanan yang mengandung zat besi dalam jumlah cukup sangat penting bagi ibu yang baru saja melahirkan. Beberapa makanan kaya zat besi adalah ikan, unggas, dan jus buah prune. Untuk memperbaiki penyerapan zat besi dari makanan, minum atau santaplah makanan yang kaya akan vitamin C bersamaan dengan beberapa kombinasi makanan seperti daging bakso dan saus tomat, sereal kaya zat besi, dan jus jeruk.

3. Suplemen bila perlu. Anda tetap dapat mengonsumsi suplemen makanan dan vitamin selama hamil, kecuali bila dokter Anda menyarankan suplemen yang lain.

4. Air putih. Air putih adalah minuman terbaik bagi ibu menyusui. Minumlah segelas air putih (boleh juga diganti dengan jus buah sesekali), sesaat sebelum Anda menyusui. Minumlah kapan saja Anda merasa haus, minimal delapan gelas sehari. Jangan tunda minum sampai Anda selesai menyusui bayi, sebab bisa membuat Anda kekurangan

Bahasa-bahasa bayi


Bahasa digunakan dalam rangka pertukaran informasi, di mana di dalamnya terkandung simbol-simbol tertentu yang bisa dilihat. Bahasa bayi dan perkembangannya dapat dilihat seperti di bawah ini:

1. Bahasa reseptif (masa preverbal).
Bahasa ini dimulai dari tangisan pertama sampai bayi dapat melontarkan kata pertama. Bayi memproduksi bahasa prelinguistik yang biasanya sesuai dengan pengasuhnya. Bahasa yang semula dikeluarkan adalah cooing atau suara seperti “vokal” tertentu (seperti “au” atau “u”). Tahap ini biasanya terdengar pada saat bayi berusia 4-6 minggu.

2. Bahasa ekspresif (masa verbal).
Bahasa ini menunjukkan kemampuan bayi untuk mengeluarkan kata-kata yang berarti, seperti kata “mama” atau “papa” dan biasanya terdengar saat bayi berusia 12-18 bulan.

Bahasa visual (dimulai beberapa minggu setelah kelahiran bayi).
Selain kedua bahasa di atas, ada lagi yang disebut bahasa visual. Bahasa ini merupakan bahasa yang dapat dilihat melalui perubahan sikap tubuh atau ekspresi wajah bayi, baik itu dalam keadaan gembira, sedih, marah, ataupun berbagai emosi lainnya.

Bahasa visual yang dapat dilihat pada seorang bayi antara lain:

• Senyum sosial, terjadi pada saat bayi berusia 4-6 minggu.

• Bayi mulai memerhatikan orang dewasa yang sedang bicara dan ketika orang dewasa tersebut berhenti bicara, bayi akan mengeluarkan suara. lagi. Ini merupakan dasar adanya interaksi pada seorang anak, yang merupakan awal tahapan bicara. Hal ini terjadi pada saat bayi berusia 2-3 bulan.

• Bayi terlihat mencari sumber suara bila ada yang mengajaknya bicara, saat ia berusia 4-5 bulan.

• Bayi menikmati permainan seperti “ciluk ba”, saat ia berusia 6-7 bulan. • Bayi mulai menggunakan tangannya untuk melakukan kegiatan sederhana seperti “melambaikan tangan” sebagai ekspresi interaksi sosial, pada saat ia berusia 9 bulan.

• Bayi memperlihatkan keinginannya pada suatu obyek dengan meraih atau menangis bila tidak mendapatkannya. Hal ini terjadi pada usia 9-12 bulan. • Bayi mulai menggunakan jarinya untuk menunjuk benda-benda yang diinginkan, ketika usianya mencapai 12 bulan.

Sungguh ajaib dan begitu indah melihat dan mendengar komunikasi yang ditunjukkan oleh bayi mungil Anda. Sudah selayaknya bila orangtua memiliki pengetahuan tentang kecakapan bayi berkomunikasi sejak dini supaya dapat memahami apa yang ingin disampaikan buah hatinya.

Selain itu, jika ternyata perkembangannya tak sesuai dengan apa yang ditemukan para ahli, maka Anda dapat segera berkonsultasi ke dokter perkembangan anak untuk menanganinya.

Apa saja yang bisa dilakukan orang tua agar bisa menikmati indahnya
bahasa bayi? Tunggu kelanjutannya pada seri Indahnya Bahasa Bayi. (Hannie K).


Cara Ibu Meningkatkan Kekebalan Tubuh Keluarga

Bakteri, virus dan kuman-kuman lainnya mengancam tubuh manusia setiap harinya. Namun ketika suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme menyerang tubuh, sistem imun atau sistem kekebalan tubuh akan meningkatkan sistem pertahanannya dengan memproduksi sejenis protein yang disebut dengan “antibodi” untuk melawan ‘serangan-serangan asing’.

Fungsi dari sistem kekebalan tubuh adalah untuk mencegah berbagai penyakit dengan membinasakan ‘serangan-serangan’ asing ataupun mengupayakan sebuah keamanan dalam tubuh. Dengan begitu, penyakit akan terusir dan tidak sempat memberikan ‘kerusakan’ di dalam tubuh.

Mengingat sedemikian pentingnya sistem kekebalan tubuh tersebut, baik pada anak-anak maupun orang dewasa, sudah selayaknya kita berusaha menjaga dan bahkan meningkatkannya.

Apa saja yang dapat dilakukan seorang ibu untuk meningkatkan sistem imun pada seluruh anggota keluarga?

1. Bila ibu dikaruniai bayi, maka bayi perlu diberi ASI karena kemampuan ASI yang sangat mengagumkan dalam menjaga kekebalan tubuh dan memberi bayi antibodi yang penting untuk melawan penyakit.

2. Bayi atau balita yang sudah tidak mengonsumsi ASI tetap harus diberi susu formula untuk menjaga sistem imunnya.

3. Selalu menyediakan makanan bergizi yang seimbang bagi kebutuhan setiap anggota keluarga, termasuk untuk diri sendiri. Bahan-bahan makanan yang termasuk penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah beta karoten yang terdapat dalam buah dan sayur, serta makanan yang mengandung mineral Zinc.

Beta karoten umumnya terkandung dalam wortel, pepaya, sayuran yang berwarna kemerahan, dan minyak kelapa sawit. Zat tersebut terbukti dapat meningkatkan respons imun, serta tergolong aman bagi tubuh. Bila dikonsumsi dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tubuh, maka kelebihannya akan dibuang melalui urin. Sedangkan Zinc (seng), adalah zat gizi esensial yang termasuk dalam kelompok mikromineral (diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit). Zinc tidak bisa diremehkan peranannya karena tak kurang dari 200 metallo-enzim sangat tergantung padanya.

Dengan kata lain, Zinc sangat berperan dalam hubungannya dengan berbagai penyakit akibat lemahnya pertahanan tubuh. Berdasarkan hasil riset, Zinc amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik. Defisiensi Zinc diketahui dapat mengurangi daya konsentrasi (mudah mengantuk), mengurangi daya penyembuhan luka, ketajaman organ pengecap, kulit kering dan kasar, dan berat badan turun.

4. Dalam batas tertentu, kita bisa menjaga supaya kekebalan tubuh berfungsi dengan baik melalui cara menghindari hal-hal yang dapat melemahkannya. Bagi anak-anak, kebiasaan sehari-hari yang merugikan sel imun adalah kurang tidur. Karena itu, menyediakan sarana tidur yang nyaman bagi mereka seperti kamar tidur yang sehat, jam tidur yang teratur setiap harinya, dan kesempatan beristirahat setelah melakukan kegiatan bermain atau lainnya, sangat dianjurkan.

5. Untuk orang dewasa, salah satu pemercepat kerusakan daya tahan tubuh adalah jika kadar hormon adrenalin dibiarkan tinggi secara terus-menerus. Maka, upaya menurunkan kadar adrenalin adalah cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini bisa dilakukan dengan tidur dan istirahat yang cukup, olahraga yang teratur, menghindari stres dan rasa marah, serta menghindari kerja keras yang berlebihan.

6. Seorang ibu juga sebaiknya menghindarkan keluarga dari makanan dan minuman yang dapat mempercepat kematian sel. Di dalam tubuh kita setiap hari ada sel yang mati, yang kemudian digantikan oleh sel baru. Kecepatan penggantian itu dipengaruhi oleh umur dan penyebab-penyebab luar. Lemak yang berlebihan (baik bagi anak maupun orang dewasa), rokok, dan alkohol, adalah unsur-unsur luar yang ikut mempercepat kematian sel-sel tubuh.

Menyediakan lingkungan yang bersih dan aman dengan mengatur kebersihan di dalam rumah, termasuk mengecek ventilasi, dan membiarkan sinar matahari pagi masuk ke rumah. Sebab, bila tidak, ada kemungkinan kuman, virus, atau jamur, berkembang dengan subur.

Sementara itu, jika diberi kesempatan, mereka juga akan mempercepat kematian sel-sel tubuh. Melatih tubuh untuk bertahan, dengan memberikan vaksinasi adalah juga cara untuk meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh dalam menghadapi serangan virus atau kuman tertentu.

Demam Setelah Imunisasi

Sebagian bayi tidak mengalami efek samping apa pun yang dapat diamati setelah mendapatkan imunisasi. Namun, tak jarang kita mendengar banyak ibu mengeluhkan demam yang diderita buah hatinya setelah imunisasi. Namun, banyak dokter berpendapat bahwa hal ini wajar. Pada buku The Baby Book yang ditulis dr. William Sears disebutkan bahwa demam termasuk reaksi vaksin yang paling umum dan tak perlu dicemaskan. Berikut adalah daftar reaksi-reaksi imunisasi selengkapnya yang tidak perlu dikhawatirkan dan merupakan efek samping yang umum.

Pada buku The Baby Book yang ditulis dr. William Sears disebutkan bahwa demam termasuk reaksi vaksin yang paling umum dan tak perlu dicemaskan. Berikut adalah daftar reaksi-reaksi imunisasi selengkapnya yang tidak perlu dikhawatirkan dan merupakan efek samping yang umum.

1. Demam. Sampai suhu 38,3 derajat Celsius selama 1-2 hari setelah imunisasi bukan hal yang luar biasa dan tak perlu dirisaukan.

2.Merah dan bengkak di lokasi suntikan. Beberapa bayi yang kulitnya peka akan sedikit memerah atau mengalami bengkak ringan. Bahkan, ada juga yang bengkaknya sampai sebesar uang logam. Ini juga wajar.

3.Rewel atau mengantuk. Bayi mungkin memperlihatkan salah satu dari kondisi ekstrim selama 1-2 hari.

4.Bengkak pada lokasi suntikan. Masih wajar bila bunda merasakan ada gumpalan keras berukuran sebutir kelereng selama beberapa bulan. Ini adalah bengkak yang mengalami pengapuran di dalam otot dan tidak berbahaya.

Anda baru mulai khawatir dan segera menghubungi dokter bila ada reaksi serius dari bayi Anda setelah imunisasi, bila:

1.Bayi mengalami demam tinggi sampai 40,6 derajat Celcius.

2.Bayi bersikap ekstrim sekali dan tak dapat dihibur, terus menangis dengan kecenderungan semakin meningkat selama 3 jam atau lebih.

3.Kelesuan. Ini bermakna bahwa bayi Anda sulit dibangunkan dan kurang responsif terhadap rangsangan dibanding biasanya.

4.Kekejangan. Walau sangat jarang terjadi, tapi kekejangan merupakan alasan yang baik untuk segera menghubungi dokter.

Perlu diingat, umumnya dokter yang memberikan imunisasi akan memperingatkan Anda bahwa akan terjadi demam atau bengkak, dan memberikan resep obatnya untuk berjaga-jaga.

Namun, bunda sendiri boleh langsung menanyakan kepada dokter anak yang memberi imunisasi soal reaksi-reaksi yang mungkin terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk menanganinya. (hannie)

Memberi Makan bayi

Teknik memberi makan bayi adalah keahlian yang selayaknya dipelajari oleh ibu-ibu muda, terutama mereka yang baru saja punya bayi. Pasalnya, pemberian makan awal itu juga bisa berpengaruh terhadap kebiasaan anak berikutnya.

Contoh, bila bayi dibesarkan dengan kebiasaan makan di depan televisi, lebih besar kemungkinannya ia juga akan melakukan hal itu ketika sudah lebih besar. Namun jika ia biasa duduk dengan tertib di kursi makannya, peluang ia duduk dengan tertib di meja makan juga lebih besar. Selain itu, bagaimana kebiasaan orangtua dalam pola makan juga akan berpengaruh terhadap kebiasaan si kecil kelak.


Jadi, bagaimana sebaiknya menyuapi bayi dengan benar supaya ia nanti memiliki kebiasaan-kebiasaan yang baik sehubungan dengan kebiasaan makan? Anda bisa menerapkan teknik di bawah ini:


Duduk di depan si kecil ketika menyuapi

Dianjurkan agar Anda memandang mata bayi Anda, ajak bicara, dan pastikan bahwa si kecil sudah siap diberi makan


Konsentrasi pada makanan

Supaya kebiasaan baik yang diadopsi oleh si kecil, sebagai orangtua kita juga harus berusaha membiasakan diri melakukan hal-hal yang baik ketika makan. Misalnya, dengan mengajak bayi berkonsentrasi pada piring atau mangkuk makannya. Jangan biarkan ia makan sambil menonton TV, atau membiarkan ia bermain dengan mainan di hadapannya ketika makan. Dengan berfokus pada makanannya, si kecil akan berkonsentrasi untuk belajar mengunyah dan menelan dengan baik, sebaik Anda menyuapinya.


Sedikit-sedikit, lama-lama habis

Karena baru mulai belajar makan, biarkan bayi mencoba sedikit demi sedikit dari ujung sendok, supaya ia bisa merasakan rasa makanan di lidahnya dan membiasakan diri dengan rasa itu. Selain itu, dengan mulai sedikit, ia semakin lama akan semakin terampil dalam menelan.


Letakkan makanan langsung di mulut

Apabila bayi sudah mulai merasakan makanan, taruh sedikit makanan di ujung sendok, lalu masukkan makanan itu sampai menyentuh bagian tengah langit-langit mulutnya. Setelah itu, bayi akan menutup mulutnya dan menelan.


Beri minum air putih

Kadang-kadang kita lupa bahwa bayi pun perlu minum selain ASI. Jadi, ketika makan, sediakan secangkir kecil air putih. Beri minum bayi dengan disendoki.


Tidak habis bukan masalah

Pada awal-awal bayi belajar menerima makanan padat, bukan masalah besar bila makanan yang Anda sediakan tidak dihabiskan. Selama ia masih giat menyusu, sebenarnya bayi tidak perlu makan dalam jumlah banyak. Sebab, perutnya pun masih kecil dan belum dapat menampung makanan yang banyak. Para ahli mengira-ngira bahwa anak satu tahun hanya memerlukan satu sendok makan penuh untuk satu kali makan. Namun, semakin ia besar, maka porsinya pun akan semakin bertambah.

Perkaya Bahasa Batita Anda

Agar komunikasi dengan bayi Anda semakin lancar dan baik, ada baiknya Anda mencoba berbagai kiat yang akan memperkaya kosakata dan perkembangan bahasa si kecil. Tentu saja, naluri Anda sebagai ibu boleh jadi sudah cukup besar tanpa perlu mempelajarinya, namun kiat ini diberikan untuk menambah karagaman usaha Anda.

Lihat dan bicarakan buku bergambar bersama-sama.
Pilihlah buku-buku yang merangsang dan mendorong bayi untuk mengingat nama-nama dengan menunjuk gambar dan mengatakan, “Apa ini?” Asosiasikan tokoh dalam buku dengan karakter yang ada dalam kehidupan nyata. Sewaktu bunda menunjuk gambar pohon di buku, tunjuk juga pohon yang ada di halaman rumah.


Perluaslah kata-kata dan gerak isyarat menjadi sebuah ide.
Jika si kecil menunjuk burung sambil bertanya, jawablah, “Itu namanya burung.” Tambahkan pula, “Burung terbang di langit.” Bunda tak hanya menjawab pertanyaannya, tapi juga memberinya gagasan dan kata yang diasosiasikan. Beri nama sebanyak mungkin pada benda atau orang sambil menambahkan keterangan supaya ia semakin terbiasa mendengar dan mencoba memahami.

Lakukan permainan kata-kata dan menyanyikan lagu dengan menggunakan gaya.
Pelajaran bahasa jadi lebih menyenangkan dengan lagu dan gaya. Anak batita senang sekali melakukan permainan tentang bagian tubuhnya dan mempelajari dengan cepat apa arti jari kakinya setelah melakukan permainan yang berhubungan dengan jari kaki beberapa kali. Bisa juga Anda mengajarkan lagu-lagu seperti “Topi saya bundar” atau “Dua mata saya” dan sebagainya.

Bicarakan tindakan yang sedang Anda lakukan.
Pada bulan-bulan sebelumnya, bunda mungkin sedah memberitahukan kepada si kecil tentang langkah-langkah penggantian popok. Sekarang, mudah untuk merawat anak Anda secara mekanistis, seperti mengganti popok dan memandikannya, tanpa perlu melakukan banyak dialog. Tapi, teruskan obrolannya,” Sekarang kita angkat tangan Ade .. sekarang kita basuh tangan Ade …” dan seterusnya.

Berbicara dengan bayi dalam kalimat tanya.
Anak Anda sepertinya menikmati nada dan intonasi suara ketika Anda atau orang di dekatnya mengajukan pertanyaan. Kalimat tanya menadakan bahwa Anda menerima tanggapan darinya, dan dia biasanya menjawabnya.

Beri pilihan kepada buah hati.
Contoh yang berkaitan dengan hal ini adalah, “Rafi, kamu mau apel atau jeruk?” Hal ini akan mendorongnya untuk menjawab dan merangsangnya untuk mengambil keputusan, selain mengingatkannya untuk membedakan dua buah benda.

Lakukan kontak mada dan sebut bayi Anda dengan namanya.
Tatapan secara intensif ke mata bayi yang selalu bertanya-tanya dapat mempertahankan perhatiannya. Kemampuan untuk merasa nyaman dalam melakukan kontak mata adalah latihan pengayaan bahasa yang akan menguntung si kecil seumur hidupnya. Juga, panggil selalu namanya sebagai salah satu pelajaran bahasa yang berhubungan dengan sosialisasi. Hal ini mengajarkan kepadanya untuk menggunakan nama ketika berbicara dengan orang lain.

Perbaiki ucapan bayi dengan tenang.
Tujuan utama dari bahasa anak bayi adalah untuk mengomunikasikan ide, bukan kata-kata. Sebagian besar omongan anak mungkin belum dapat ditangkap ketika ia berusia kurang dari dua tahun. Adalah penting bagi anak batita untuk berbicara dalam bahasa bayi dan bereksperimen dengan suaranya tanpa campur tangan pihak lain untuk menyempurnakannya. Bila Anda merasa bahwa buah hati Anda memiliki masalah dengan kata-kata tertentu, Anda harus berusaha untuk sering kali mengulangi suara itu, dan tingkatkan motivasi anak Anda untuk menirukannya.
 

wall-boa-2

wal-abpras-1