Apa Yang Anda Dapatkan

informasi tentang masa-masa kehamilan anda, perkemabangan janin dalam tubuh anda. tumbuh kembang buah hati anda hingga berusia 3 tahun. hal-hal apa saja yang perlu anda perhatikan bagi anak anda. 3 tahun pertama kehiupan mereka akan menjadi masa-masa kritis yang menentukan masa depan mereka kelak.

Saya, Elka Anastasia

adalah seorang ibu dengan 3 putra berusia balita semua, ingin berbagi tentang masa kehamilan dan mengasuh ketiga 'jagoan' kecil saya. baik pengalaman pribadi maupun referensi yang saya dapatkan dari masa tumbuh kebang para 'jagoanku' di 3 tahun pertama kehidupan mereka. Semoga bermanfaat...

Showing posts with label balita. Show all posts
Showing posts with label balita. Show all posts

Baby Sign, the teaching of sign language to hearing babies. Why? When? How?

by Kay Green, www.MyPreciousKid.com

I have always had an interest in sign language since knowing my deaf aunt and uncle as a little girl. I myself know a little sign for worship at church. I read about the new idea of teaching sign to hearing babies and immediately knew I would like to do that with Haley. My adopted daughter will be 1 year old on Tuesday.

I admit I did not teach sign to my 3 teenagers when they were babies. However with baby number 4 in my home and with me at age 40, there are a lot of things I do differently this time around.

Sign language for babies uses a different part of the brain than speech. Studies have shown that these babies who learn sign are less frustrated because they can express their wants and needs. It also says that these babies are actually ahead, not delayed, in speech development. Babies are able to do many signs before they can speak the words.

Our babies all do some signs without us even thinking about it. They wave Hi and bye-bye. They point to things they want. They make animal signs or sounds. Haley loves to do fish lips and blows kisses, nod yes and no. When your baby starts learning to wave it is a perfect time to begin teaching other signs.

When Haley was about 8-9 months old and could wave I started showing a few signs consistently. Milk, more, kitty, all done. I remember well the day Haley got the sign for MORE (fingers tips together in front of your chest). She has always been very verbal and clear about what she wants. That usually meant yelling at you. I was working on the computer. I had a bag of baby cookies. She would have one, then come back and scream indicating she wanted another and I gave it to her. After 5 or 6 times I thought "Wow, I am teaching her to scream for what she wants." The next time she came I said "MORE?" and did the sign with my fingers. I repeated that for several times. Then the next time I did it with her fingers and said the word. We did that a couple times. Then she came up and did the sign the next time, without screaming. YEAH! Success! That was way too easy. I realize how quickly she got it and started showing her other signs.

At What Age Does My Infant become a Toddler?

With all the stages your new child goes through, it is often difficult to pinpoint when they move from one to the next. The stages are classified by what happens to the child mentally, intellectually and socially. Certain skills are developed in each of these stages and it is important to know where your child stands. Development in the early years is very important. It is always good to know where your child stands emotionally and developmentally.

An infant becomes a toddler at the age of one. The toddler stage occurs between the ages of one and two. During this time, mobility becomes increasingly more noticeable. Independence becomes identified and defiance is normal. Toddlers begin to recognize themselves when shown pictures or placed in front of a mirror. They also begin to mimic the behavior of those around them.

During this year, children will gain approximately three to five pounds. The new mobility that babies implement during this year make their outward appearances seem more like a small child and less like a baby. Faces become less round and arms and legs become more defined. By the end of the toddler stage, most children are walking, running, and jumping. At first walking may be clumsy, but as a child ends his or her toddler stage this usually subsides.

Children in the toddler stage think they are the center of everything. They can often be grumpy when forced to do things they don’t like or want. They begin to become more interested in their surroundings and touching or getting into EVERYTHING is not abnormal. Toddlers may begin to suffer from separation, this usually coincides with walking.

The toddler stage may be somewhat difficult. Most toddlers begin to develop a strong sense of self. They can also be easily upset. Make sure to stay patient with your child. This stage is extremely important for developing spatial skills and people skills. Although it may be difficult to get your toddler to understand the concept of sharing, make sure to keep them involved with others their age. Read to your toddler and show them lots of pictures. This period in a child’s life is very important for development, make sure to stay engaged no matter how difficult it may be. This will, in turn, make it easier for them as they continue growing and maturing.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA

Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit. Caranya dengan rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.

Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi dan balita relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit anak lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural kulit bayi dan balita belum berkembang dan berfungsi optimal sehingga diperlukan perawatan khusus.

Perawatan yang lebih menekankan pada pemeliharaan kulit ketimbang dekorasi ini diharapkan bisa meningkatkan fungsi utama kulit sebagai pelindung dari pengaruh luar tubuh. Perawatan kulit bayi dan balita bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari.

Misalnya dengan memandikan secara teratur, membersihkan rambut, dan mengganti popok atau baju pada saat tepat. Mandi misalnya, diwajibkan dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam memandikan, perhatikan hal-hal berikut: suhu air disesuaikan dengan umur anak, gunakan sabun bayi yang lunak, gunakan sampo bayi untuk membersihkan rambut, keringkan badan dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit, dan berikan bedak dengan sapuan tipis.

Soal pakaian bayi sebaiknya dari bahan lembut dan selalu bersih. Dengan memperhatikan pakaian yang digunakan berarti kita telah berupaya menghindari timbulnya gangguan. Pada sebagian anak penggunaan pakaian berbahan nilon atau wol bisa menimbulkan gatal-gatal di seluruh tubuh. Bahan katun yang gampang menyerap keringat haruslah menjadi pilihan pertama bagi anak berkulit peka.

Pemeliharaan kulit itu bisa dilakukan dengan menggunakan bermacam kosmetika bayi yang beredar saat ini. Sebagian berfungsi untuk membersihkan kulit misalnya sabun dan sampo; melembapkan dan pelindung terhadap sinar matahari seperti losion, krim, dan minyak khusus.

Penggunaan kosmetika berupa sabun, sampo, losion, minyak khusus untuk bayi perlu dipilih yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi kulit bayi. Misalnya dengan mencermati zat warna dan bahan-bahan pengawet yang mungkin saja tidak sesuai dengan kulit bayi. Juga apakah pH-nya sesuai dengan kulit bayi.

Memilih dan menggunakan kosmetika pada bayi dan balita secara benar dan tidak berlebihan merupakan langkah utama menjaga kesehatan kulit. Oleh karena itu, banyaknya informasi tentang produk kosmetika bayi dan balita dewasa ini harus lebih dicermati oleh orang tua.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA 1

Eksim popok
Selain perawatan kulit rutin, para orang tua perlu memperhatikan perawatan kulit yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orang tua.

Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.

Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari.

Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam faeces bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak begini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Usap semua bekas faeces dari badannya, balur dengan krim pelindung. Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari.

Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi. Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin.

Sebelum pemakaian popok usapkan krim pelindung kulit. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida - jamur yang biasa muncul di usus. Dalam hal itu periksakan ke dokter, yang mungkin memberi krim khusus dan juga obat khusus untuk melawan infeksinya. Soal pilihan penggunaan popok kain atau popok sekali pakai tak jadi soal. Dari segi kesehatan keduanya sama-sama sehat. Yang penting jangan sampai terlambat mengganti.

Untuk popok kain tentu harus segera diganti bila terlihat basah. Tetapi untuk popok sekali pakai frekuensi penggantiannya didasarkan atas daya tampungnya. Misalnya dengan melihat apakah popok sekali pakai itu sudah tampak menggelembung atau menggantung. Jika sudah, maka harus segera diganti.

Setiap kali akan mengganti popok, bagian pantat bayi dan sekitarnya harus dibasahi. Kemudian bagian tadi dikeringkan, baru diberi bedak. Sering dianjurkan pemakaian baby oil pada bagian ini, untuk menjaga air seni tidak mudah meresap ke dalam kulit. Tentu saja baby oil ini harus diteteskan lebih dulu pada segumpal kapas.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA 2

Pada bayi perempuan, membersihkannya harus dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. Sedangkan pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah.

Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penting dicatat pula, bahwa dari berbagai penelitian terbukti bukan air susu ibu (ASI) penyebabnya. Bahkan, ASI sendiri mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi.
Namun, nama eksim susu telah telanjur melekat sehingga tetap dipertahankan. Sementara istilah kedokterannya adalah dermatitis atopik (eksim di tempat yang tidak biasanya).

Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.

Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering.

Biang keringat
Biang keringat juga merupakan keluhan umum yang sering ditemukan pada bayi dan balita. Biang keringat atau sering disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian. Gejala utama adalah gatal, dapat disertai kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil. Penyakit ini biasa kambuh berulang, terutama bila udara panas dan berkeringat, sehingga menimbulkan masalah pada bayi, balita, maupun orang tua. Penyakit ini dapat dicegah dengan perawatan rutin, misalnya mandi dengan teratur dan membasuh anak yang berkeringat dengan lap basah sebelum dikeringkan dan diberi bedak.

Seringkali terjadi bintik-bintik merah (ruam) pada leher dan ketiak bayi. Keadaan ini disebabkan oleh peradangan kulit pada bagian tersebut. Bisa disebabkan karena bagian ini tidak kering betul ketika dilap dengan handuk sehabis memandikannya. Apalagi jika si bayi gemuk, sehingga leher dan ketiaknya berlipat-lipat.

Ruangan dengan ventilasi udara cukup sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam ruangan lancar. Dari kasus-kasus biang keringat pada bayi dan balita, hampir 70% nya bisa diatasi bila pergerakan udara dalam ruangan lancar sehingga kamar terasa sejuk.

Lepas dari soal kesehatan, perawatan kulit pada bayi dan balita sebenarnya mengekspresikan rasa cinta orang tua kepada buah hatinya. Sentuhan mereka akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seorang anak. (G. Sujayanto)

Mengajak si kecil ke dokter

Untuk melakukan imunisasi, maupun untuk mengobati bayi dan balita yang sedang sakit, kadang-kadang diperlukan ‘perjuangan’ yang lumayan berat. Bagi bunda yang buah hatinya masih bayi, membawa anak ke dokter tidak sulit. Namun, balita yang beranjak besar biasanya mengerti bahwa ia akan dibawa ke dokter. Reaksi masing-masing tentu berbeda, namun takut dan enggan umumnya adalah perilaku yang sering ditemui.

Lantas, bagaimana caranya supaya si kecil merasa nyaman dibawa pergi ke dokter? Menurut Dr. Katie Lawhead, spesialis anak dari Children’s Medical Center Child Life di Medical College of Georgia, Amerika Serikat, kunjungan ke dokter sebaiknya digambarkan sebagai suatu petualangan yang mengasyikkan.

Karena itu, menakut-nakuti anak dengan mengatakan, “Awas, nanti kamu dibawa ke dokter!” ketika balita sedang melakukan kenakalan adalah suatu hal yang harus dihindari. Sebab, kalimat ini justru bernada negatif alias menunjukkan bahwa pergi ke dokter adalah sesuatu yang akan terjadi bila ia nakal.

Oleh karena itu, kunjungan ke dokter sebaiknya dideskripsikan sebagai suatu perjalanan yang bernilai positif. Selain itu, balita juga perlu diberi gambaran bahwa dokter adalah sosok yang baik hati dan mau membantu anak-anak untuk sembuh dari penyakitnya.

Tip lain agar anak tidak takut melakukan kunjungan ke dpkter adalah:
Memberi penjelasan kepada si kecil mengapa harus berkunjung ke dokter dan apa saja yang akan dilakukan dokter.

Sesekali, ketika anak tidak sakit, ajak dia ke ruang praktek dokter atau rumah sakit dan carilah sesuatu yang membuat dia senang, misalnya gambar-gambar lucu di dinding, atau alat mengukur tinggi badan, dan sebagainya.

Kalau diizinkan dokter, ketika anak sedang diperiksa, biarkan ia memegang peralatan dokter yang tidak berbahaya, umpamanya stetoskop dan jelaskan fungsinya. Anda juga bisa meminta dokter anak yang memberi penjelasan.
Izinkan si kecil membawa boneka kesayangannya bila perlu.

Kalau harus disuntik, ungkapkan bahwa menyuntik adalah suatu cara untuk memasukkan obat ke dalam tubuh, dan bekerja secara cepat. Jangan berbohong dengan mengatakan suntik itu tidak sakit. Sebaliknya, katakana bahwa disuntik memang sakit, tapi hanya sebentar sekali. Bila ia takut, katakan bahwa Anda akan memeluknya erat-erat.

Ketika dokter melakukan tindakan dan si kecil terkesan ketakutan, alihkan perhatiannya kepada hal-hal yang lucu, umpamanya gambar bebek berbaris di dinding ataupun ikan di akuarium yang berada di kamar praktek dokter anak. Dokter anak yang cerdas kerap menghiasi dinding ruang prakteknya dengan hal-hal yang mengesankan dan menyenangkan anak.Bila si kecil ‘lulus’ dan telah diperiksa dokter, berikan ia reward, baik itu pujian maupun hadiah lain yang disukainya. (hannie)

Aman di Jalan dengan Car Seat

Jika Anda harus membawa bayi kecil Anda di dalam mobil, sudah saatnya Anda melindunginya dengan car seat. Inilah panduan lengkap cara penggunaannya.Sekilas, bukan hal yang sulit untuk membawa si kecil sambil melaju dalam mobil.

Itulah, pemandangan khas yang bisa kita saksikan di Indonesia.

Kebanyakan orang tua tak merasa perlu berpusing-pusing berpikir bagaimana caranya menjaga keamanan si kecil selama berkendara. Toh, anak bisa digendong atau dipangku.Masalahnya, cara seperti itu sama sekali tidak aman.

Sadarkah Anda, cara itu sebenarnya hanya menjadikan tubuh si kecil itu menjadi bumper orang yang menggendong atau memangkunya?

Ketika terjadi kecelakaan, hentakan yang keras dari benturan mobil dapat membuat tubuh anak terjepit tubuh orang dewasa yang menggendongnya, atau ia justru akan terlempar ke depan.

Yang gawat adalah bila kaca depan pecah. Ia bisa langsung terlontar keluar melalui kaca yang pecah itu. Sekedar menggunakan sabuk pengaman ( seat belt ) juga bukan jawaban, karena sabuk ini tidak dirancang untuk tubuh anak-anak, yang berisiko tercekik.

Karena itulah Anda harus menggunakan kursi khusus buat anak, yang biasa disebut car seat. Kursi ini bisa dipasang dan ditarik, jadi tidak menempel permanen ke mobil. Anda juga bisa menggunakannya ketika naik taksi.

Car seat adalah alat krusial untuk mengamankan anak dalam mobil. Bukan itu saja. Dengan melatihnya duduk sendiri di dalam mobil, sebenarnya Anda melatih kemandirian si kecil disamping membuatnya nyaman selama perjalanan.

Masih belum yakin?

Perhatikan saja kutipan berikut ini. Dalam situs www.aap.org disebutkan, sepanjang tahun 2000, sekitar 539 anak berusia di bawah 5 tahun di Amerika Serikat tewas dalam kecelakaan mobil. Terjadinya kecelakaan ini hanya karena tubuh mereka sama sekali tidak terikat atau tidak terikat dengan benar ke car seatnya.

Beda usia, beda car seatBerdasarkan jenisnya, car seat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
- Infant car seat, yakni kursi mobil khusus untuk bayi usia 0-1 tahun dengan berat badan maksimal 10 kg.
- Toddler car seat khusus untuk anak usia 1–4 tahun dengan berat badan antara 10–20 kg.
- Young children car seat adalah kursi khusus untuk anak usia 4–8 tahun dengan berat badan lebih dari 20 kg.

Laila Andaryani Hadis

Kalau Balita Susah Makan 2

Namun, tentu saja orangtua juga tak bisa menyerahkan kesulitan makan ini pada faktor biologis anak. Apalagi, tingkah laku anak akan bertambah buruk bila anak semakin lama tidak makan. Karena itu, tetap ada hal-hal yang bisa dilakukan bunda, yaitu:

1. Membentuk makanan menjadi saus atau krim.
Anak-anak suka mencelupkan jari ke makanan, karena itu bentuklah makanan menjadi seperti krim atau saus yang beraroma. Misalnya, dengan melumatkan avokad, menghaluskan buah-buahan atau sayuran yang dimasak dengan bumbu sedikit saus salad, melumatkan kacang panjang atau buncis tanpa serat, melumatkan tahu, atau membuat krim keju halus.

2. Membuat selai.
Olesan pada makanan juga disukai balita, yang umumnya berwujud selai. Buatlah selai dari avokad, keju, saus daging, mentega kacang, atau selai buah-buahan. Oleskan pada biskuit, kue-kue kering, dan roti.

3. Menghias makanan.
Bentuk yang menarik juga disukai balita. Selain itu, Anda juga bisa mengakali makanan yang tidak disukai balita menjadi dimakan dengan cara meletakkannya di bawah makanan yang mereka sukai. Jadi, bila ia tidak suka sayuran, letakkan sayuran di bawah topping yang menarik, seperti keju, saus tomat, saus daging, mentega kacang, dan sebagainya, dan bentuklah dengan bentuk binatang, bulat,atau hati, sesuai selera.

4. Buatlah finger food.
Piring yang penuh bisa jadi membuat anak kurang berselera makan. Karena itu, bagi Anda yang kreatif, sajikan makanan dalam porsi kecil-kecil, dan tambahlah lagi bila masih ada. Selain itu, membentuk makanan dalam wujud yang mudah disantap, seperti finger food, lebih akan menerbitkan selera mereka. Makanan seperti nugget bisa Anda buat sendiri, dan bisa terdiri dari campuran tepung, sayuran, dan daging yang menyehatkan sekaligus mengenyangkan.

5. Gunakan kursi khusus dan sabuk pengaman.
Supaya anak duduk diam ketika makan, sediakan selalu kursi makan khusus untuk balita, bisa di kursi tinggi, atau di kursi yang memiliki sabuk pengaman supaya ia tidak jatuh karena banyak bergerak.

6. Sering mengubah menu.
Dalam hal ini, Anda dituntut untuk bersikap fleksibel ketika mempersiapkan menu dan menyajikan makanan. Bila teknik penyajian tidak berhasil, ubahlah menunya. Cobalah berbagai teknik yang berbeda dan jenis makanan yang lebih variatif.

Kalau Balita Susah Makan 1

Menyuapi balita tak semudah membayangkan ia tumbuh dan berkembang dengan cepat. Kadang-kadang, ada kalanya menyuapi mereka membuat kaum ibu kesal, sedih, dan bahkan ingin menangis karena si anak enggan membuka mulut atau menelan.

Seorang ibu bahkan pernah harus membelikan bayinya yang berusia 18 bulan dengan makanan buatan impor yang harganya hampir 20 ribu rupiah setiap satu kali waktu makan karena anaknya menolak makanan lain. Daripada tidak ada makanan yang masuk, kebiasaan mahal dan merepotkan itu dijalaninya juga.

Namun, tentu saja ibu muda itu lega ketika akhirnya sang buah hati mau juga menelan makanan buatan sendiri yang lebih bersahabat dengan kondisi ekonomi.

Memang, menurut Dr. William Sears dalam bukunya, The Baby Book, kebiasaan makan yang tidak menentu adalah ciri khas perkembangan normal anak-anak balita yang dipengaruhi suasana hatinya.

Anak balita bisa saja makan dengan baik hari ini, tapi besok ia bisa menolak makanan yang sama. Bila ini berlangsung sesekali, sebenarnya orangtua tak perlu risau, karena umumnya anak balita akan menyeimbangkan kebutuhannya akan makanan, dan ia akan minta makan bila sudah merasa lapar, dan berhenti bila ia sudah kenyang.

Apalagi, seorang bayi yang belum berusia setahun, perutnya hanya sebesar kepalan tangannya. Maka, makanan sebanyak itu pula yang dibutuhkannya setiap hari, tak lebih dari itu.

Memberikan obat pada anak-anak

Ketika bayi Anda sudah sedikit lebih besar, pemberian obat bisa jadi masih menjadi masalah. Berikut trik yang bisa Anda lakukan:
  1. Mintalah anak menutup lubang hidung saat meminum obat agar rasa obat tak terlalu keras.
  2. Campurlah obat, terutama yang berupa tablet, dengan sirup atau madu agar tak terasa pahit.
  3. Jangan larutkan obat dengan air di gelas karena ada kemungkinan obat mengendap dan tak terminum si anak.
  4. Mintalah anak untuk menggosok gigi setelah meminum obat yang manis agar tidak menempel di gigi.

Ketika si Kecil Sakit

Daya tahan tubuh yang menurun terjadi ketika si kecil gampang jatuh sakit. Yang paling mencemaskan Bunda bukan hanya kondisi tubuhnya, tapi juga ketika bayi dan balita menolak ketika akan diberi obat. Hal ini tentu akan berdampak pada kesembuhannya. Untuk itu, diperlukan trik mengatasinya.

1. Gendonglah bayi dengan posisi kepala lebih tinggi dari badan, agar ia tidak tersedak.
2. Karena bayi susah diam, Anda bisa membungkus tangan dan tubuhnya dengan selimut agar tak mengganggu proses pemberian obat. Bila perlu, mintalah bantuan orang dewasa lain untuk memeganginya.
3. Bila bayi memuntahkan obat yang diberikan kepadanya, ulangi pemberian dengan meminta bantuan orang dewasa lain untuk membuka mulutnya dengan lembut.
4. Obat dalam bentuk cair bisa diberikan dengan bantuan sendok atau pipet.
5. Pemberian obat tetes untuk hidung, mata, dan telingapada bayi juga perlu kiat khusus:

Obat tetes hidung:
Tengadahkan sedikit kepala bayi. Perlahan teteskan obat ke setiap lubang hidung.Hitung jumlah tetesan yang masuk ke hidung. Dua atau tiga tetes biasanya sudah cukup.

Obat tetes mata:
Miringkan sedikit kepala bayi, hingga mata terinfeksi berada di bawah. Dengan cara ini tetesan obat tak mengalir masuk ke mata sehat.Perlahan tariklah kelopak mata bawah agar obat dapat mudah mengalir.

Obat tetes telinga:
Baringkan bayi pada salah satu sisi dengan lubang telinga terinfeksi berada di atas. Teteskan obat ke dalam lubang telinga yang sakit.Buat bayi tetap diam agar obat benar-benar masuk ke lubang telinga bagian dalam.

Sebelum obat tetes tersebut diberikan, ada baiknya hal-hal berikut ini diperhatikan:
1. Rendam obat tetes dengan posisi tegak dalam tabung berisi air suam-suam kuku selama beberapa menit, agar ketika diteteskan dan masuk ke lubang hidung atau telinga, anak tidak terlalu kaget.
2. Jangan sentuhkan obat tetes ke hidung, telinga, atau mata, agar bakteri tidak berpindah ke dalam botol obat.
3. Perhatikan batas waktu pemakaian obat itu. Obat kadaluwarsa akan memperburuk peradangan atau kondisi bayi yang diobati.

Kegiatan Makan Sebagai Pengalaman Belajar

Kegiatan makan, bagi sebagian bunda, kadang-kadang menuntut banyak pengorbanan. Boleh jadi ada teriakan dan jeritan yang terlontar, diselingi air mata yang tumpah, karena anak tak mau makan. Tidak heran kalau saat makan menjadi kegiatan yang meletihkan dan menguras energi.

Memang, seorang ibu diharapkan untuk senantiasa sabar, terutama karena kegiatan makan bukan hanya membuat anak tercukup kebutuhan gizinya, namun kegiatan tersebut juga dapat dijadikan pengalaman belajar bagi anak balita. Pada saat anak mulai bicara, kegiatan makan dapat dijadikan sarana bagi ibu untuk mengajarkan konsep rasa, ekspresi rasa, konsep warna, konsep tekstur, konsep jumlah, dan konsep ukuran. Kesabaran ibu melakukan kegiatan ini dapat mempermudah proses makan serta memperkaya wawasan pengetahuan balita. Inilah konsep yang diadopsi sebagai pengembangan dari konsep yang diperkenalkan oleh Feurstine dan Pnina Klein pada tahun 1983 dan disebut sebagai konsep Mediated Learning Experiences (MLE).

Kedua ahli perkembangan anak itu menegaskan bahwa terjadinya proses belajar diperlukan mediator atau perantara antara anak dengan lingkungannya. Dalam hal kegiatan makan, ibu atau pengasuh bertindak sebagai mediator untuk memperkenalkan berbagai konsep dan fakta yang ditemui anak di dalam lingkungan kehidupannya. MLE ini juga dapat diterapkan ketika kegiatan makan berlangsung. Contohnya adalah ketika memberi makan, ibu dapat memberi informasi mengenai apa yang dimakan, bagaimana rasanya, apa warnanya, berapa jumlahnya, dan sebagainya.

Teknik memberi makan dengan konsep MLE dapat dilakukan dalam 5 tahap, yaitu:

1. Membangkitkan perhatian dan keinginan anak untuk bereaksi Ibu mengajak anak makan dan memberi tanda bahwa waktu makan telah tiba. Untuk menarik perhatian anak, ibu menggunakan ekspresi verbal dan nonverbal, untuk mengaktifkan penginderaan anak. Misalnya, sambil mengatakan, “Yuk, makan … Bau sosisnya sedap banget, yaaa …” (supaya anak mencium bau makanan). Ibu lalu mengambil piring dan membiarkan anak memegang peralatan makan, makanannya, dan menirukan apa yang dikatakan ibu. Ibu juga menyebutkan nama makanan yang diberikan, rasanya, bentuknya, teksturnya, dan perkuat dengan ekspresi suara atau mimik. Ulangi hal ini beberapa kali.

2. Memberikan makna yang sifatnya afektif terhadap pengalaman
Menyebutkan nama makanan berikut atribut yang menyertainya. Misalnya, “Sayang makan nasi, ya. Enak nih nasinya anget. Mau pake sosis? Kayak bunga, ya, sosisnya? Warna apa sosisnya. O iya, merah … “

3. Menggiring anak berpikir ke masa depan dengan melihat kaitannya dengan masa kini dan masa lalu atau melihat hubungan sebab akibat
Untuk membuat anak mampu melihat kaitan dari apa yang dilakukan saat ini dengan kondisi yang akan terjadi di masa datang adalah membiasakan si kecil melihat hubungan sebab akibat. Misalnya, “Sayang, mamamnya pake sayur, ya. Ini ada bayamnya. Biar sehat, biar nanti nggak gampang sakit kalau senang makan sayur.”

4. Memberikan pujian dan membangkitkan rasa percaya diri dan kompeten pada anak
Kalau anak makan dengan benar, ibu juga tidak pelit dengan pujian. Misalnya, bila ia telah menghabiskan satu sendok makanan, langsung saja ibu memuji tentang kepandaiannya itu. Apalagi bila makanan bisa dihabiskan dengan rapi, tanpa ada remah-remah. “Pinter banget deh sayangnya Mama, makannya habis, mejanya bersih. Nggak ada yang tumpah karena makannya hati-hati …”

5. Membiasakan anak merencanakan semua kegiatan yang hendak diambil, memperlihatkan bahwa semua tindakan mempunyai pola
Dalam mempersiapkan kegiatan makan, anak hendaknya juga dilibatkan, misalnya ketika mencuci tangan, menyiapkan makanan, sambil bercerita tentang apa yang sedang dilakukan ibu, sampai membereskan meja setelah kegiatan makan usai. Hal ini dilakukan berkali-kali, supaya membentuk kebiasaan dan pola makan yang sehat.

Agar proses pembelajaran menjadi lebih mudah dan situasi menyenangkan, ibu sebaiknya juga mengadakan kontak mata dengan balita. Selain itu, bunda disarankan untuk memiliki rasa empati, mau memberikan kesempatan pada buah hati untuk berbicara, mencoba berbagi perasaan yang menyenangkan, serta mengikuti apa yang menjadi inisitif maupun respons anak. Interaksi ibu atau anak yang intensif saat pemberian makan ini bisa dijadikan sarana untk meningkatkan kemampuan kognitif anak.

Bagaimana halnya bila ibu tidak sempat menyuapi sendiri si anak? Sebenarnya, pengasuh pun dapat berperan menjadi mediator. Tentu, sudah menjadi tugas ibu untuk mendelegasikan peran ini agar pengasuh dapat bertindak sebagai mediator yang baik agar anak memahami kehidupannya, mengajarkan untuk bersikap empati dan giat mengajak anak mengobrol, dan bersikap selayaknya orang dewasa yang mengajari anak dengan sabar.

Perkembangan Bahasa Bayi 15-18 Bulan

Menginjak usia 15-18 bulan, perkembangan bahasa bayi menunjukkan peningkatan. Bunda dapat melihat bahwa kata-kata favorit sang buah hati, semakin bertambah. Menurut William dan Martha Sears dalam The Baby Book, ocehan bayi meningkat dari hanya 10 kata saat berusia 15 bulan, menjadi sekitar 50 kata saat berusia 18-24 bulan. Walaupun begitu, masih juga ada beberapa bunyi yang tidak dapat dimengerti keluar dari mulut bayi.

Kata-kata pertama anak berkembang dari kata-kata yang tak lengkap menjadi kata-kata yang utuh ketika dia melengkapi kata-kata itu menjadi tepat. “Mi” misalnya, akan berubah menjadi “minum”.

Ucapan bayi juga semakin memanjang dari pengucapan satu suku kata menjadi kata-kata yang terucap secara utuh. Walaupun masih salah dan mungkin membuat Anda tertawa, tapi bayi semakin pintar. Contohnya, ia sudah bisa bilang “sudah”. Dulu, ia mungkin menyingkatnya dengan “dah” saja.

Bayi juga terlihat lebih mengikuti percakapan yang terjadi di dekat mereka. Misalnya, Anda meminta suami mengambilkan botol susu anak. Yang terjadi kemudian, bisa jadi ia yang akan mengambilkannya dan memberikannya pada Anda. Pandai sekali, bukan?

Ada beberapa ciri lain yang menunjukkan perkembangan bahasa bayi usia 15-18 bulan, yaitu:

Lebih tanggap terhadap kata-kata tanpa gerak isyarat. Walaupun Anda tidak lagi menunjuk diri sendiri bila ingin mengatakan “Mama mau gendong kamu”, batita Anda sekarang sudah mengerti. Ia akan menghambur ke pelukan Anda dan menunggu dirinya digendong.

Mulai ikut bernyanyi.
Bayi bunda sekarang mulai ikut bersenandung ketika Anda menyanyikan lagu untuknya. Kalau bisa, rekam segera suaranya di kaset sehingga Anda bisa mengabadikan momen penting ini.

Menggerakkan tangan
Batita Anda kini mulai melengkapi dirinya sendiri dengan gerakan tangan. Misalnya, ia akan mengangkat lengan sambil mengatakan, “gendong”. Ia juga bisa menunjukkan isyarat diam berupa ucapan “sssttt” yang dilakukan sambil menempelkan jari telunjuk ke mulut. Kata “tidak” bisa saja ia lontarkan sambil menggeleng-gelengkan kepala yang kaku atau kuat. Bila ia berespons negatif, alisnya terngkat, bibirnya berkerut, wajahnya menunjukkan ekspresi marah, dan jarinya diayunkan ke arah bunda sambil mengatakan “Tidak!”

Ucapan untuk berinteraksi
Batita semakin ahli menamai aktivitas favoritnya setiap hari, khususnya tentang pemberian makan, dan akhirnya dapat meminta makan secara lisan maupun dengan bahasa tubuh. Bayi Anda mungkin menarik blus Anda untuk minta disusui, sambil mengucapkan kata “mimi”. Ia mungkin saja meminta botol seraya menunjuknya. Ia sering mengucapkan salam seperti mengatakan “hayo” (halo) ketika mengangkat telepon yang berdering. Ia bahkan dapat mengejutkan Anda dengan mengucapkan “aci” sebagai pengganti kata “terima kasih”. Banyak kata yang Anda ucapkan ratusan kali sebelumnya akan terdengar kembali dari mulut si mungil.
Anda sendiri mulai berubah
Yang mungkin tidak Anda sadari adalah bahwa pada saat si buah hati mulai berbicara menyerupai orang dewasa, ada kemungkinan Anda juga mengajaknya bicara tidak lagi seperti mengajak bicara bayi. Bunda mungkin mulai berbicara dengan nada normal, karena bayi mulai mengerti hal yang Anda ucapkan tanpa perlu menggunakan nada suara yang ditinggi-tinggikan atau dilengking-lengkingkan. (hannie)

Tentang ASI

Saat buah hati ibu tumbuh dan berkembang di dalam kandungan, tubuh ibu memberinya antibodi melalui plasenta. Ini memberinya kekebalan pasif yang mampu melindungi janin ibu dari serangan penyakit selama masa kehamilan.

Namun, begitu sang buah hati dilahirkan, ia tidak lagi mendapatkan suplai antibodi. Sementara itu sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir belum bekerja secara sempurna. Karena itu, bayi sangat rentan terkena resiko infeksi pada tahun pertama hidupnya.

Menurut Professor Guido Moro dari Macedonis Melloni Maternity Hospital di Milan dua pertiga dari sistem kekebalan tubuh bayi ada di bagian perutnya, sehingga sangatlah penting untuk memperhatikan apa yang ia makan dan minum.
Itulah sebabnya mengapa buah hati Ibu yang baru lahir sangat membutuhkan ASI terutama selama 6 bulan pertama kehidupannya.

Sebagai makanan pertama si buah hati, ternyata ASI bukan hanya nutrisi sempurna untuk buah hati dan mendekatkan hubungan emosi antara ibu dan sang bayi, namun sekaligus memberi perlindungan karena ASI bermanfaat memperkuat imunitas alami bayi yang baru lahir.

Begitu banyak manfaat ASI untuk sang buah hati, sepuluh keajaibannya antara lain: ASI memperkuat sistem kekebalan tubuh. Komponen utama pembangun sistem kekebalan tubuh pada ASI adalah prebiotik ASI menurunkan terjadinya resiko alergi ASI menurunkan resiko terjadinya penyakit pada saluran cerna, seperti diare dan meningkatkan kekebalan pada sistem pencernaan ASI menurunkan resiko gangguan pernafasan, seperti flu dan batuk ASI kaya akan AADHA yang mendukung pertumbuhan kecerdasan anak ASI mengandung prebiotik alami untuk mendukung pertumbuhan flora usus ASI memiliki komposisi nutrisi yang tepat dan seimbang (dimana cuma ASI yang memilikinya)

Bayi-bayi yang diberikan ASI menjadi lebih kuat. Menyusui juga menurunkan terjadinya resiko obesitas saat ia tumbuh besar kelak. Bayi-bayi yang menerima ASI memiliki resiko lebih rendah dari penyakit jantung dan darah tinggi di kemudian hari Menurut hasil penelitian, menyusui telah terbukti dapat menurunkan resiko kanker payudara, kanker ovarium, dan osteoporosis.

Masalah Kegemukan Pada Anak -anak

Bila anak anda mengalami KEGEMUKAN atau kelebihan berat badan….Jangan merasa sendirian,….Menurut penelitian terbaru terjadi peningkatan persentasi masalah kegemukan pada anak-anak didunia.
Apakah penyebabnya dan bagaimana mencoba mencegah atau mengatasinya?

Aduh mak…lucu gemesin, gemuk ya anak ibu….itu kalimat-kalimat yang sering kali didengar bila melihat seorang anak kecil yang montok, gemuk….membuat anak menjadi pusat perhatian. Sebagai orang tua rasanya bangga juga bila si kecil jadi pusat perhatian di jalan/mall,….tapi sekarang ini banyak factor yang harus dipertimbangkan oleh orang tua akibat dari kegemukan pada anak.

Untuk anak yang masih kecil hal ini tidak akan menjadi masalah, tapi bila semakin dewasa perkataan seperti ndut, kayak bola, badak, kingkong dll, akan mempengaruhi kepercayaan diri seorang anak.

Bila anak anda mengalami KEGEMUKAN atau kelebihan berat badan….Jangan merasa sendirian,…. Menurut penelitian terbaru terjadi peningkatan persentasi kegemukan pada anak-anak didunia.

Penelitian menunjukkan bahwa kegemukan pada anak jaman sekarang disebabkan karena kurangnya aktivitas dalam gaya hidup dan juga cara serta kebiasaan makan.

Kegemukan merupakan factor resiko besar terjadinya masalah jantung, tekanan darah tinggi, gula darah dll. Oleh karenanya orang tua harus berfikir tentang kesehatan anak dimasa datang.


Tidak ada cara yang cepat dan mudah untuk menolong anak anda menurunkan berat badannya. Diperlukan waktu yang panjang untuk merubah cara hidup dan kebiasaan makan yang mungkin tidak sesuai dengan kebiasaan keluarga anda.


Beberapa Tips untuk mencegah atau mengatasi Kegemukan pada anak:

UBAHLAH GAYA HIDUP KITA SENDIRI. Sebagai orang tua kita harus menjadi contoh yang baik dalam penerapan cara hidup dan makan yang sehat.

SEDIAKAN WAKTU UNTUK EXERCISE (aktivitas). Temukan aktivitas yang disukai dan menarik untuk anak anda dan dapat membakar kalori sepeti: berlari, berenang, naik sepeda, berjalan (jogging). Lakukan ini secara rutin.


PILIHLAH MAKANAN YANG SEHAT. Kurangi makanan “fastfood or junk food” yang hanya mengandung tinggi lemak dan garam. Kurangi konsumsi gula. Berikan anak 3 kali makan dengan porsi kecil dan 3 kali makanan kecil(snack) dengan porsi kecil, sehingga anak tidak merasa lapar. Berikan banyak minum air putih juga juice seperti orange juice yang mengandung vit.c juga serat, juga berikan banyak makan buah dan sayuran. Pilihlah snack yang rendah lemak.

UBAHLAH KEBIASAAN MAKAN KELUARGA. Berikan makan pada anak hanya bila anak anda lapar dan bukan karena sekedar ingin makan sesuatu. Bila anak anda baru saja makan dan ingin untuk makan lagi cobalah untuk mengalihkan aktivitasnya atau memberikan sesuatu yang lain, karena anda tahu anak anda tidak benar-benar lapar. Jangan pernah makan atau ngemil selama nonton TV.


BERIKAN DUKUNGAN ANDA. Sangat penting untuk seluruh keluarga merubah cara hidup untuk menolong anak anda. Jangan menyimpan makanan junk food, minuman soda yang kaya akan gula, makanan tinggi lemak (potato chip dll) dirumah anda. Siapkan menu makanan yang rendah lemak dan sehat untuk seluruh keluarga. Ikuti kegiatan exercise.

BERIKANLAH PUJIAN ATAU PERHATIAN BILA ANAK SUDAH MELAKUKAN SESUATU YANG BAIK. Hadiah dan pujian dapat memotivasi anak untuk tetap berdiet. Contohnya bila anak anda dalam 1 minggu berinisiatif untuk minum air putih ketimbang soda maka pujilah anak anda, berikan hadiah mainan atau aktivitas kesenangannya, tapi JANGAN berikan makanan sebagai hadiah.


PERIKSAKAN KE DOKTER. Periksakanlah anak anda ke dokter/dokter anak untuk pengawasan diet juga mengecek berat badanya setiap 2-4 minggu sekali. Hindari menimbang berat badan anak setiap waktu dirumah karena dapat menimbulkan stress pada anak anda.

Sebagai orang tua kita harus melakukan peranan kita untuk menolong anak kita, yang hanya tindakan sederhana tapi memberikan perubahan yang tetap terhadap cara hidup, kebiasaan olahraga dan makan pada anak nantinya. Yang semuanya ini sangat bermanfaat bagi kesehatan anak anda di masa datang.

© Dr.Suririnah-www.InfoIbu.com
 

wall-boa-2

wal-abpras-1