Apa Yang Anda Dapatkan

informasi tentang masa-masa kehamilan anda, perkemabangan janin dalam tubuh anda. tumbuh kembang buah hati anda hingga berusia 3 tahun. hal-hal apa saja yang perlu anda perhatikan bagi anak anda. 3 tahun pertama kehiupan mereka akan menjadi masa-masa kritis yang menentukan masa depan mereka kelak.

Saya, Elka Anastasia

adalah seorang ibu dengan 3 putra berusia balita semua, ingin berbagi tentang masa kehamilan dan mengasuh ketiga 'jagoan' kecil saya. baik pengalaman pribadi maupun referensi yang saya dapatkan dari masa tumbuh kebang para 'jagoanku' di 3 tahun pertama kehidupan mereka. Semoga bermanfaat...

Showing posts with label imunitas. Show all posts
Showing posts with label imunitas. Show all posts

Jadwal imunisasi

Agar buah hati Anda memiliki pertahanan tubuh yang kuat dan mampu melawan infeksi, pastikan ia mendapat imunisasi secara lengkap.

Tujuan imunisasi adalah mempertinggi daya tahan tubuh agar anak Anda tidak terkena penyakit infeksi. Meskipun penyakitnya sudah tidak ada, imunisasi tetap diperlukan untuk berjaga-jaga kalau penyakit tersebut muncul kembali.

Sebagian besar imunisasi diberikan ketika anak berumur 4 bulan. Anda akan mendapat kartu yang berisi jadwal imunisasi dan kapan seharusnya imunisasi diberikan. Jangan lupa mencatat tanggal dan jenis vaksinasi yang telah diberikan untuk membantu dokter menentukan apakah anak Anda perlu mendapat vaksinasi tertentu.

Umumnya dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan keluarga untuk menentukan apakah anak Anda perlu mendapatkan vaksinasi jenis tertentu. Misalnya, bila di keluarga Anda ada yang menderita TBC, anak Anda harus mendapat suntikan BCG pada sekitar usia 1 tahun.

Tabel berikut adalah jenis imunisasi yang dianjurkan pada masa kanak-kanak serta tabel penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada anak-anak.


Penyakit

Waktu

Reaksi

Perlindungan

Imunisasi DPT, difteri, batuk rejan (partusis), tetanus

Suntikan pada umur 2, 4, 6, 18 bulan. Dan diulang pada 4-5 tahun

Anak bisa demam, tempat suntikan terasa sakit.

Tetanus harus diulang setiap 5 tahun supaya terhindar dari tetanus

Polio

Vaksin diminum pada usia 0, 2, 3, 4, 6, 18 bulan dan ulangi pada umur 5 tahun

Tidak ada

Harus diulang agar selalu terlindung

Campak

Suntikan pada usia 9 bulan dan diulang pada usia 6 tahun

Demam dan timbul bercak-bercak

Tidak diketahui berapa lama sejak vaksinasi terakhir

Tuberkolosa (BCG)

Suntikan pada usia 0-3 bulan dan diulang pada usia 10-13 tahun, kalau dianggap perlu.

Sakit dan kaku di tempat suntikan

Seumur hidup

Rubella

Suntikan untuk anak perempuan usia 10-14 tahun

Mungkin nyeri sendi

Tidak diketahui berapa lama sejak vaksinasi terakhir


Keterangan jadwal imunisasi berdasarkan usia pemberian, sesuai IDAI, periode 2004.


Umur

Vaksin

Keterangan

Saaat lahir

Hepatitis B-1

HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan

Polio-0

Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS, polio diberikan saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin terhadap bayi lain)

1 bulan

Hepatitis B-2

Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan

0-2 bulan

BCG

BCG dapat diberikan sejak lahir. Apabila BCG akan diberikan pada >3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberkulin terlebih dahulu dan BCG diberikan apabila hasilnya negatif.

2 bulan

DTP-1
Hib-1
Polio-1

Diberikan pada umur lebih dari 6 minggu
Diberikan mulai umur 2 bulan
Dapat diberikan bersama DTP-1

4 bulan

DTP-2
Hib-2
Polio-2

Diberikan secara terpisah
Hib-2 dapat dikombinasikan dengan Hib-2
Diberikan bersama dengan DPT-2

6 bulan

DTP 3
Hib-3
Polio 3

Dapat dikombinasikan dengan Hib-3

Diberikan bersama DTP-3

9 bulan

Campak-1

Campak 1 diberikan pada umur 9 bulan, apabila telah mendapat MMR pada usia 15 bulan, Campak 2 tidak perlu diberikan.

15 -18 bulan

MMR

Hib-4

Apabila sampai usia 12 bulan belum mendapat imunisasi cacar

18 bulan

DTP-4
Polio-4

Diberikan satu tahun setelah DTP-3
Diberikan bersamaan dengan DTP-4

2 tahun

Hepatitis A

Direkomendasikan pada umur >2 tahun, diberikan 2 kali dengan interval 6-12 bulan

2-3 tahun

Tifoid

Vaksin tifoid polisakarida injeksi direkomendasikan untuk umur >2 tahun, perlu diulang setiap 3 tahun.

5 tahun

DTP-5
Polio-5

Diberikan pada umur 5 tahun
Diberikan bersama DTP-5

6 tahun

MMR

Diberikan untuk catch up immunization pada anak yang belum mendapat MMR-1

10 tahun

dT/TT

Varisela

Menjelang pubertas vaksin tetanus ke-5 diberikan untuk imunitas selama 25 tahun.

Diberikan pada umur 10 tahun


Orang Dewasa Juga Perlu Imunisasi

Kata imunisasi umumnya membuat orang langsung teringat pada bayi dan balita. Tidak salah memang, karena sebagai orang tua dari bayi dan balita, tentu saja kita sering membawa anak-anak kita diimunisasi.

Namun, imunisasi tak hanya diperlukan oleh anak-anak saja. Orang dewasa pun perlu juga. Mengapa? Sebab, kekebalan tubuh atau immunity diperlukan oleh setiap orang. Kekebalan tubuh adalah kemampuan tubuh untuk menangkal berbagai macam penyebab penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau kuman, dan perannya ditentukan oleh antibodi dan sel-sel darah putih jenis limfosit. Sementara, imunisasi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Kita mengenal ada dua macam imunisasi, yaitu aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah imunisasi yang dilakukan dengan merangsang tubuh membentuk zat antibodi sendiri setelah dalam tubuh dimasukkan virus atau kuman yang sudah dimatikan atau dilemahkan. Sedangkan pada imunisasi pasif, zat yang dimasukkan dalam tubuh sudah dalam bentuk antibodi, jadi tubuh tidak membuat antibodi sendiri.

Ketika bayi atau kanak-kanak, kita sudah menerima beberapa jenis imunisasi. Imunisasi yang umum diterima oleh anak-anak di Indonesia adalah BCG (untuk TBC), DPT (Diphtery Pertussis Tetanus), campak, dan polio. Namun, ternyata ada beberapa jenis imunisasi yang harus diulang atau dilanjutkan ketika orang sudah beranjak dewasa, demikian menurut para ahli medis.

Selain orang dewasa, imunisasi pada orang lanjut usia imunisasi juga sangat penting, karena saat berusia lanjut, daya tahan tubuh manusia kembali melemah seperti ketika bayi dan anak-anak.

Sayangnya, untuk orang dewasa ini, pemerintah belum menetapkan pedoman imunisasi. Padahal, di negara semaju Amerika Serikat, yang setiap tahunnya ditemukan 50.000-70.000 orang meninggal dunia akibat Pneumokok (infeksi paru-paru), influenza dan hepatitis B, program imunisasi pada orang dewasa sudah merupakan kewajiban.

Imunisasi atau pemberian vaksin pada orang dewasa itu meliputi tetanus, meningitis meningokokus (Meningokok), tifoid, campak, parotitis (dikenal juga dengan istilah gondongan), rubella atau campak jerman, yellow fever, hepatitis B, Japanese B encephalitis, rabies, dan influenza. Untuk manfaat-manfaat imunisasi itu, silakan mengklik artikel selanjutnya.

Makanan Pengganggu Dalam Asi

Ketika menyusui, pengaturan menu makan seorang ibu sangat penting, sama pentingnya dengan perawatan bayi. Selain gizi seimbang plus air putih, menu makan ibu menyusui sebaiknya juga memerhatikan beberapa zat makanan yang disinyalir dapat mengganggu produksi maupun kualitas ASI. Makanan-makanan pengganggu ini dapat masuk ke ASI dan mengganggu bayi, dua jam setelah Anda mengonsumsinya. Demikian yang ditegaskan Dr. William Sears dalam The Baby Book.

Tanda-tanda bahwa makanan tersebut adalah pengganggu ASI dapat dilihat pada bayi. Misalnya, bayi menjadi rewel, sakit perut, tingkah laku gelisah, atau apa yang disebut sebagai kolik 24 jam – yaitu rasa sakit yang terjadi, maksimum 24 jam, setelah ibu mengonsumsi makanan yang dicurigai, tapi hal itu tidak terjadi lagi sampai ibu mengkonsumsi lagi makanan yang sama.


Beberapa makanan yang dicurigai dapat mengganggu ASI adalah:

  1. Produk olahan-berbahan-susu. Kandungan protein alergenik pada produk-produk olahan-berbahan-susu dapat masuk ke ASI dan menghasilkan gejala-gejala sakit perut pada bayi. Makanan itu antara lain adalah susu, yoghurt, dan keju.
  2. Makanan yang mengandung kafein. Minuman ringan, cokelat, kopi, teh, dan minuman pengurang rasa dingin, semuanya mengandung kafein. Meskipun sebagian bayi lebih peka terhadap kafein dibanding bayi lainnya, biasanya ibu harus mengonsumsi produk ini dalam jumlah besar terlebih dulu untuk dapat memberi efek mengganggu pada bayinya.
  3. Biji-bijian dan kacang-kacangan. Yang paling alergenik dari jenis ini adalah gandum, jagung, dan kacang tanah.
  4. Makanan pedas. Air susu ibu akan terasa berbeda setelah Anda mengonsumsi makanan pedas dan mengandung bawang putih. Salad, pizza, dan minuman keras juga dapat menimbulkan protes dari lambung bayi, sehingga ia menolak minum ASI atau menjadi sakit perut.
  5. Makanan yang mengandung gas. Brokoli, bawang putih, tauge, cabai hijau, kembang kol, kubis, dapat mengganggu bayi, tetapi tidak terlalu mengganggu bila sudah dimasak. Memang cukup sulit untuk menjelaskan secara ilmiah bagaimana makanan tersebut dapat mengganggu bayi, namun pengalaman para ibu menyusui menyebutkan bahwa makanan yang banyak mengandung gas membuat bayi banyak mengeluarkan gas pula.

Selain jenis makanan yang mengganggu ASI, ibu menyusui sebaiknya juga memerhatikan aturan lain dalam menyantap makanan. Aturan itu adalah jangan berlebihan dalam mengonsumsi suatu makanan. Ada bayi yang bisa terganggu setelah ibunya makan makanan tersebut dalam jumlah yang banyak, misalnya bila ibu terlalu banyak makan makanan olahan dari gandum dan makanan-makanan masam. Namun, dalam jumlah kecil makanan ini masih bisa ditoleransi pencernaan bayi.

Imunisasi IPD, Apa Manfaatnya?

Imunisasi IPD, Apa Manfaatnya?

Written by IKA ASRIYANI
Thursday, 05 July 2007

IPD (Invasive Pneumoccocal Disease), merupakan sekelompok penyakit ganas yang disebabkan kuman Streptococcus pneumoniae (pneumokokus). “Dari 90 tipe kuman pneumokokus, ada 10 tipe yang ganas dan menyerang anak-anak,” kata Dr. Alan Roland Tumbelaka, Kepala Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dalam acara media edukasi bertema Cegah Penyakit Pneumokokus, Pembunuh Utama Bayi dan Balita yang
diadakan bulan Februari 2007 lalu.

Penyakit apa saja yang disebabkannya?
  • Kuman pneumokokus menyerang organ-organ vital di dalam tubuh, seperti:
  • Dalam otak, sehingga menyebabkan radang selaput otak (meningitis).
  • Paru-paru, sehingga menyebabkan radang paru (pneumonia).
  • Aliran darah, sehingga menyebabkan infeksi darah (sepsis) dan kegagalan seluruh organ tubuh.
  • Telinga bagian tengah sehingga menyebabkan radang telinga bagian tengah (otitis media akut).

Apa Bedanya Dengan HiB?

Mengingat HiB juga menyebabkan meningitis dan pneumonia, lalu apa beda IPD dan HiB? “Yang beda adalah kumannya,” kata Dr. Alan. “Hib disebabkan oleh kuman Haemophilus Influensa B - yang mana tidak ada hubungannya sama sekali dengan flu - sementara IPD disebabkan oleh kuman pneumokokus.

Jadi meski si kecil Anda sudah mendapatkan imunisasi Hib, risiko terkena meningitis dan radang
paru masih bisa terjadi bila ia belum mendapatkan vaksin IPD. Meningitis yang disebabkan pneumokokus, lebih ‘jahat’ daripada yang disebabkan oleh Hib.”

Apa Gejalanya?

Meningitis pada bayi, gejalanya: Demam, rewel/gelisah, susah makan, terus-menerus menangis,
lemah, intensitas interaksi berkurang. Pada balita, gejalanya: Demam, kejang tengkuk, sakit kepala, mual, bingung/disorientasi.

Pneumonia, tidak terlihat tandanya pada bayi. Pada balita, mungkin tidak tampak gejala gangguan pada pernapasan. Dalam banyak kasus, hanya muncul dalam bentuk demam atau napas yang cepat. Gejala dapat termasuk batuk, lelah/tidak enak badan, demam, sakit di dada, menggigil, sesak napas, sakit di perut dengan atau tanpa muntah.

Sepsis, bisa diketahui jika kulit anak Anda terasa dingin, lembap, nadi berdetak lemah, kecepatan
denyut jantung tidak normal, pernapasan sangat cepat, hipotensi, oliguria, perubahan status mental.

Bacteremia, gejalanya sangat bervariasi, termasuk: Menggigil, panas, rewel, kemerahan pada kulit dan bintik merah, kulit terasa panas atau seperti terbakar.

Bagaimana cara kuman ini menyebar?

Kuman ini dapat berpindah secara mudah melalui udara dan percikan ludah, terutama di kondisi
keramaian seperti hunian yang padat dan tempat penitipan anak (TPA) atau playgroup. Saat pergantian cuaca dan musim hujan kuman ini juga menyebar dengan cepat. Kuman yang sudah masuk ke dalam darah akan membuat kondisi semakin berbahaya.

Apakah imunisasi IPD aman bagi bayi dan anak-anak?

Vaksin anti kuman Streptococcus pneumoniae disebut Pneumococcal 7 valent conjugated vaccine (PCV7), yang memberikan solusi dalam pencegahan penyakit akibat kuman pneumokokus. Vaksin ini merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk zat anti (antibodi) yang berfungsi mengenali dan sekaligus membunuh kuman pneumokokus.

Pada studi klinis, reaksi umum dari imunisasi IPD yang paling banyak dilaporkan adalah demam ringan (>38 derajat Celcius), rewel, mengantuk (drowsiness), tidak bisa tidur, berkurangnya nafsu
makan, muntah, diare dan kemerahan (rash) pada kulit. Reaksi ini umum ditimbulkan oleh semua jenis vaksin. Dokter sangat menganjurkan agar setelah melakukan imunisasi (apapun), Anda tidak langsung pulang dan menunggu 15 menit untuk mengetahui apakah ada reaksi vaksin.

Berapa kali imunisasi dIberikan?

Jadwal pemberian vaksin IPD dilakukan 4 kali: Pada usia 2, 4, 6 bulan dan antara usia 12-15 bulan dengan kondisi yang telah dikonsultasikan dengan dokter anak. Jika Anda terlambat melakukan imunisasi, Anda tak perlu mengulangnya dari awal dan bisa langsung melanjutkannya.

Seperti kata
pepatah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Perlukah Balita Diberi Imunisasi Varisela?

Berbagai jenis imunisasi telah dikenal dan diwajibkan di Indonesia. Namun, ada juga jenis-jenis imunisasi yang diwajibkan di suatu negara, namun hanya dianjurkan di negara lainnya. Salah satu jenis imunisasi yang termasuk kategori ini adalah imunisasi varisela.

Imunisasi varisela adalah imunisasi yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus varisela. Cacar air (chicken pox), diwajibkan oleh America Academy of Pediatric untuk diberikan kepada balita yang berusia di atas 1 tahun. Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia hanya menganjurkan pemberian vaksin tersebut.

Walaupun jarang, vaksin ini dapat berakibat komplikasi berat seperti radang otak atau infeksi kulit yang menyeluruh dan bersifat berat. Menurut Dr. William Sears, setelah imunisasi, anak juga mungkin mengalami gejala seperti flu selama beberapa hari. Kondisi ini dapat terjadi dengan segera atau mungkin memerlukan waktu selama beberapa minggu untuk muncul.

Penyakit cacar air sendiri berbeda dengan cacar yang menyebabkan parut yang berbekas seumur hidup. Maka itu, kita beruntung karena program vaksinasi cacar telah berhasil membasmi virus itu dari muka bumi, sehingga sejak tahun 1974 tidak diperlukan lagi vaksinasi cacar. Penyakit cacar air biasanya bersifat ringan dan sembuh dengan sendirinya dalam jangka waktu 1-2 minggu.

Kendati tidak diwajibkan, bagi Anda yang ingin memberikan vaksinasi varisela ini kepada anak Anda, lakukanlah setelah bayi berusia di atas 1 tahun. Sebab bagaimana pun, pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan.

Oils in Bath Products May Enlarge Boys’ Breasts… Temporarily


BOSTON - Lavender and tea tree oils found in some shampoos, soaps and lotions can temporarily leave boys with enlarged breasts in rare cases, apparently by disrupting their hormonal balance, a preliminary study suggests.

While advising parents to consider the possible risk, several hormone experts emphasized that the problem appears to happen infrequently and clears up when the oils are no longer used. None of those interviewed called for a ban on sales.

The study reported on the condition, gynecomastia, in three boys ages 4, 7 and 10. They all went back to normal when they stopped using skin lotions, hair gel, shampoo or soap with the natural oils.

It’s unclear how often this problem might crop up in other young children.

Read the rest of the article at MSNBC.com.

Cara Ibu Meningkatkan Kekebalan Tubuh Keluarga

Bakteri, virus dan kuman-kuman lainnya mengancam tubuh manusia setiap harinya. Namun ketika suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme menyerang tubuh, sistem imun atau sistem kekebalan tubuh akan meningkatkan sistem pertahanannya dengan memproduksi sejenis protein yang disebut dengan “antibodi” untuk melawan ‘serangan-serangan asing’.

Fungsi dari sistem kekebalan tubuh adalah untuk mencegah berbagai penyakit dengan membinasakan ‘serangan-serangan’ asing ataupun mengupayakan sebuah keamanan dalam tubuh. Dengan begitu, penyakit akan terusir dan tidak sempat memberikan ‘kerusakan’ di dalam tubuh.

Mengingat sedemikian pentingnya sistem kekebalan tubuh tersebut, baik pada anak-anak maupun orang dewasa, sudah selayaknya kita berusaha menjaga dan bahkan meningkatkannya.

Apa saja yang dapat dilakukan seorang ibu untuk meningkatkan sistem imun pada seluruh anggota keluarga?

1. Bila ibu dikaruniai bayi, maka bayi perlu diberi ASI karena kemampuan ASI yang sangat mengagumkan dalam menjaga kekebalan tubuh dan memberi bayi antibodi yang penting untuk melawan penyakit.

2. Bayi atau balita yang sudah tidak mengonsumsi ASI tetap harus diberi susu formula untuk menjaga sistem imunnya.

3. Selalu menyediakan makanan bergizi yang seimbang bagi kebutuhan setiap anggota keluarga, termasuk untuk diri sendiri. Bahan-bahan makanan yang termasuk penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah beta karoten yang terdapat dalam buah dan sayur, serta makanan yang mengandung mineral Zinc.

Beta karoten umumnya terkandung dalam wortel, pepaya, sayuran yang berwarna kemerahan, dan minyak kelapa sawit. Zat tersebut terbukti dapat meningkatkan respons imun, serta tergolong aman bagi tubuh. Bila dikonsumsi dalam jumlah yang melebihi kebutuhan tubuh, maka kelebihannya akan dibuang melalui urin. Sedangkan Zinc (seng), adalah zat gizi esensial yang termasuk dalam kelompok mikromineral (diperlukan dalam jumlah yang sangat sedikit). Zinc tidak bisa diremehkan peranannya karena tak kurang dari 200 metallo-enzim sangat tergantung padanya.

Dengan kata lain, Zinc sangat berperan dalam hubungannya dengan berbagai penyakit akibat lemahnya pertahanan tubuh. Berdasarkan hasil riset, Zinc amat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik. Defisiensi Zinc diketahui dapat mengurangi daya konsentrasi (mudah mengantuk), mengurangi daya penyembuhan luka, ketajaman organ pengecap, kulit kering dan kasar, dan berat badan turun.

4. Dalam batas tertentu, kita bisa menjaga supaya kekebalan tubuh berfungsi dengan baik melalui cara menghindari hal-hal yang dapat melemahkannya. Bagi anak-anak, kebiasaan sehari-hari yang merugikan sel imun adalah kurang tidur. Karena itu, menyediakan sarana tidur yang nyaman bagi mereka seperti kamar tidur yang sehat, jam tidur yang teratur setiap harinya, dan kesempatan beristirahat setelah melakukan kegiatan bermain atau lainnya, sangat dianjurkan.

5. Untuk orang dewasa, salah satu pemercepat kerusakan daya tahan tubuh adalah jika kadar hormon adrenalin dibiarkan tinggi secara terus-menerus. Maka, upaya menurunkan kadar adrenalin adalah cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini bisa dilakukan dengan tidur dan istirahat yang cukup, olahraga yang teratur, menghindari stres dan rasa marah, serta menghindari kerja keras yang berlebihan.

6. Seorang ibu juga sebaiknya menghindarkan keluarga dari makanan dan minuman yang dapat mempercepat kematian sel. Di dalam tubuh kita setiap hari ada sel yang mati, yang kemudian digantikan oleh sel baru. Kecepatan penggantian itu dipengaruhi oleh umur dan penyebab-penyebab luar. Lemak yang berlebihan (baik bagi anak maupun orang dewasa), rokok, dan alkohol, adalah unsur-unsur luar yang ikut mempercepat kematian sel-sel tubuh.

Menyediakan lingkungan yang bersih dan aman dengan mengatur kebersihan di dalam rumah, termasuk mengecek ventilasi, dan membiarkan sinar matahari pagi masuk ke rumah. Sebab, bila tidak, ada kemungkinan kuman, virus, atau jamur, berkembang dengan subur.

Sementara itu, jika diberi kesempatan, mereka juga akan mempercepat kematian sel-sel tubuh. Melatih tubuh untuk bertahan, dengan memberikan vaksinasi adalah juga cara untuk meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh dalam menghadapi serangan virus atau kuman tertentu.

Demam Setelah Imunisasi

Sebagian bayi tidak mengalami efek samping apa pun yang dapat diamati setelah mendapatkan imunisasi. Namun, tak jarang kita mendengar banyak ibu mengeluhkan demam yang diderita buah hatinya setelah imunisasi. Namun, banyak dokter berpendapat bahwa hal ini wajar. Pada buku The Baby Book yang ditulis dr. William Sears disebutkan bahwa demam termasuk reaksi vaksin yang paling umum dan tak perlu dicemaskan. Berikut adalah daftar reaksi-reaksi imunisasi selengkapnya yang tidak perlu dikhawatirkan dan merupakan efek samping yang umum.

Pada buku The Baby Book yang ditulis dr. William Sears disebutkan bahwa demam termasuk reaksi vaksin yang paling umum dan tak perlu dicemaskan. Berikut adalah daftar reaksi-reaksi imunisasi selengkapnya yang tidak perlu dikhawatirkan dan merupakan efek samping yang umum.

1. Demam. Sampai suhu 38,3 derajat Celsius selama 1-2 hari setelah imunisasi bukan hal yang luar biasa dan tak perlu dirisaukan.

2.Merah dan bengkak di lokasi suntikan. Beberapa bayi yang kulitnya peka akan sedikit memerah atau mengalami bengkak ringan. Bahkan, ada juga yang bengkaknya sampai sebesar uang logam. Ini juga wajar.

3.Rewel atau mengantuk. Bayi mungkin memperlihatkan salah satu dari kondisi ekstrim selama 1-2 hari.

4.Bengkak pada lokasi suntikan. Masih wajar bila bunda merasakan ada gumpalan keras berukuran sebutir kelereng selama beberapa bulan. Ini adalah bengkak yang mengalami pengapuran di dalam otot dan tidak berbahaya.

Anda baru mulai khawatir dan segera menghubungi dokter bila ada reaksi serius dari bayi Anda setelah imunisasi, bila:

1.Bayi mengalami demam tinggi sampai 40,6 derajat Celcius.

2.Bayi bersikap ekstrim sekali dan tak dapat dihibur, terus menangis dengan kecenderungan semakin meningkat selama 3 jam atau lebih.

3.Kelesuan. Ini bermakna bahwa bayi Anda sulit dibangunkan dan kurang responsif terhadap rangsangan dibanding biasanya.

4.Kekejangan. Walau sangat jarang terjadi, tapi kekejangan merupakan alasan yang baik untuk segera menghubungi dokter.

Perlu diingat, umumnya dokter yang memberikan imunisasi akan memperingatkan Anda bahwa akan terjadi demam atau bengkak, dan memberikan resep obatnya untuk berjaga-jaga.

Namun, bunda sendiri boleh langsung menanyakan kepada dokter anak yang memberi imunisasi soal reaksi-reaksi yang mungkin terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk menanganinya. (hannie)

ASI Mengurangi Resiko Alergi

Pada bayi, penyakit alergi yang paling mendapat perhatian serius selain alergi susu sapi adalah dermatitis atopik atau kemerahan (rash) pada kulit karena faktor makanan atau suhu. Penyakit dermatitis atopik ini sangat umum terjadi pada bayi.

Tetapi hasil penelitian yang dilakukan oleh Saarinen pada tahun 1979 membuktikan bahwa pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan pertama kehidupan si bayi, dapat menurunkan insiden dermatitis atopik bahkan sampai si kecil berusia 3 tahun.

Lebih jauh penelitian ini menunjukan bayi yang mendapat ASI ekslusif, kemungkinan menderita reccurent (pengulangan serangan alergi) lebih rendah dibanding bayi yang tidak mendapat ASI

Zat pada ASI yang memberikan kekebalan alami

Air Susu Ibu bukan hanya mengandung berbagai nutrisi untuk pertumbuhan buah hati tersayang, tapi juga mengandung oligosakarida, sejenis prebiotik yang memperkuat sistem kekebalan tubuh alami pada bayi yang baru lahir, khususnya di saluran pencernaan.

Zat ini terus diproduksi pada Air Susu Ibu, sehingga si kecil akan memperoleh kekebalan tubuh alami selama ibu menyusuinya.

Kemampuan ASI dalam memberi perlindungan ini telah terbukti dalam penelitian selama 40 tahun terakhir ini. Ketika dibandingkan dengan bayi-bayi yang tidak diberikan ASI, bayi-bayi yang diberikan ASI tidak mudah terkena penyakit akibat infeksi, alergi dan penyakit lain yang berhubungan dengan kekebalan tubuh.

Pada penelitian yang diadakan di tahun 1990, terbukti bahwa bayi-bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 13 minggu pertama dalam kehidupannya memilki tingkat infeksi pernafasan dan infeksi saluran cerna yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi-bayi lain yang diberikan susu formula biasa.

Menurunnya tingkat infeksi saluran cerna ini tetap bertahan bahkan sesudah selesai masa pemberian ASI dan berlanjut hingga tahun-tahun pertama dalam kehidupan anak.

Tingkat infeksi saluran cerna dan pernafasan bayi pada 13 minggu pertama sesudah dilahirkan:

-----------------------------------------------------------------------------------
Bayi yang diberi Bayi yang diberi
ASI eksklusif susu formula biasa
-----------------------------------------------------------------------------------
Infeksi saluran cerna 2.9% 15.7%
Infeksi saluran pernafasan 25.6% 37%
-----------------------------------------------------------------------------------

ASI dan Imunitas Bayi

Penelitian membuktikan bahwa ASI mampu memperkuat kekebalan alami tubuh bayi. Di dalam ASI terdapat oligosakarida yang menjalankan fungsi sebagai prebiotik di dalam pencernaan si kecil.

Manfaat yang diberikan oligosakarida ini adalah:

1. Memperkuat sistem kekebalan tubuh pada bayi yang baru lahir

2. Memiliki efek anti infeksi dengan melapisi dinding usus dan menekan pertumbuhan bakteri pathogen.

Untuk lebih mudah memahami manfaat dari oligosakarida ini, Ibu bisa melihatnya melalui feses si kecil. Kandungan oligosakarida membuat feses bayi yang diberikan ASI bertekstur lebih lembut, sehingga dapat menghindarkan buah hati tersayang dari keluhan konstipasi (susah buang air besar).
 

wall-boa-2

wal-abpras-1