Apa Yang Anda Dapatkan

informasi tentang masa-masa kehamilan anda, perkemabangan janin dalam tubuh anda. tumbuh kembang buah hati anda hingga berusia 3 tahun. hal-hal apa saja yang perlu anda perhatikan bagi anak anda. 3 tahun pertama kehiupan mereka akan menjadi masa-masa kritis yang menentukan masa depan mereka kelak.

Saya, Elka Anastasia

adalah seorang ibu dengan 3 putra berusia balita semua, ingin berbagi tentang masa kehamilan dan mengasuh ketiga 'jagoan' kecil saya. baik pengalaman pribadi maupun referensi yang saya dapatkan dari masa tumbuh kebang para 'jagoanku' di 3 tahun pertama kehidupan mereka. Semoga bermanfaat...

Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Tanda-Tanda Tubuh Tak Sehat



Bayi dan balita yang belum bisa berbicara tak akan bisa mengatakan kalau mereka sakit atau merasa kekebalan tubuhnya menurun. Untunglah, hal ini bisa terlihat dari beberapa tanda yang ditunjukkan oleh tubuh mereka.

Tanda-tanda itu adalah:

Demam.
Bayi demam belum tentu memiliki infeksi bakteri yang serius. Demam adalah tanda bahwa anak Anda sedang berjuang melawan penyakit dan tidak mencerminkan kegawatan atau penyebab penyakit tersebut. Menurut

Dr. William Sears, beberapa virus yang tak berbahaya dan tak perlu diobati dapat menyebabkan demam sampai 40,6 derajat Celcius, sementara beberapa infeksi bakteri yang harus diobati mungkin menyebabkan demam setinggi 38 derajat Celcius. Demam sendiri didefinisikan sebagai temperatur di atas 38 derajat Celcius.


Kelesuan.

Kebanyakan bayi tak banyak bergerak ketika mereka sakit dan tampak lesu. Mereka lebih senang digendong atau berbaring tenang. Perilaku lesu ini adalah khas dari banyak penyakit yang tidak serius.
Kekurangan tenaga.

Berbeda halnya dengan kelesuan, maka kekurangan tenaga adalah tanda bahwa ada penyakit serius yang terjadi pada anak. Seorang anak yang kekurangan tenaga tidak membuat kontak mata, tidak benar-benar mengakui bahwa ada orangtua di sana, mungkin membuka matanya secara singkat, dan tidak akan bergerak dengan lincah serta merespons rangsangan verbal atau fisik. Ia tampak tidak acuh dengan sekitar.


Perubahan perilaku.

Bayi umumnya lesu atau rewel selama menderita penyakit, terutama bila mengalami demam. Jika anak bergerak lincah dan tampak merasa lebih baik ketika demam turun, tampaknya dia tidak menderita penyakit serius. Namun, bila anak tidak dapat dihibur dan terus rewel, ini harus segera dilaporkan ke dokter.

Selera makan yang berkurang.

Kondisi ini wajar ketika seseorang menderita penyakit. Jangan risau bila bayi Anda tidak makan dengan baik selama beberapa hari. Bayi biasanya menerima cukup cairan untuk mendukung dirinya sendiri. Seorang bayi dapat bertahan selama beberapa hari tanpa makan sama sekali selama sakit, sepanjang mendapat asupan cairan yang cukup.

Dehidrasi (kekurangan cairan di dalam tubuh).
Bayi mungkin mengalami kekeringan ringan selama penyakitnya datang, namun asupan cairan yang berkurang selama beberapa hari saat menderita batuk, flu, dan demam tidak terlalu penting untuk dicemaskan. Dehidrasi yang sesungguhnya terjadi ketika seorang bayi muntah-muntah dan berlangsung terus-menerus atau diare yang gawat.

Ruam.

Ruam sangat umum selama menderita berbagai penyakit. Ruam pada umumnya menunjukkan bahwa penyakit itu adalah infeksi virus. Ruam jarang menjadi alasan untuk panik dan menghubungi dokter di ruang gawat darurat.

Detak jantung yang lebih cepat.
Ketika bayi sakit, terutama kala demam, ia akan bernapas lebih cepat. Ini menandakan sumber alami bayi untuk penyembuhan dan pelepasan napas yang berlebih. Percepatan detak jantung akan menjadi lambat ketika demam turun.

Muntah-muntah dan diare.
Muntah-muntah sering terjadi pada infeksi tenggorokan, dada, ginjal, dan telinga. Diare menyertai banyak virus. Anak-anak mungkin menunjukkan keduanya. Dua-duanya masih wajar bila hanya terjadi sesekali. Bila keduanya atau salah satu terjadi secara terus-menerus, laporkan segera ke dokter.
(hannie)

Prepare for Birth with Prenatal Yoga

By Karen Prior

Prepare for labor, birth, delivery with prenatal yoga

When to Start Practicing
Women should take it easy for the first 12 weeks of pregnancy to allow their bodies to adjust to the changes of pregnancy. Prenatal yoga classes are for healthy women in their 2nd and 3rd trimesters and can be safely attended right up until you go into labor. Consult with your physician/midwife before starting any exercise program.

Women who have a history of miscarriage or who had trouble conceiving should wait until 16 weeks to give the pregnancy time to settle. Talk to your yoga instructor about some simple and safe exercises that can be practiced in the first trimester.

Guidelines for Practice
The first thing to remember is that every pregnancy is different, even for the same woman, so it is best to listen to your body at all times and only do what feels right to you. If you are new to yoga, now is not the time for over-achieving, so take it easy, especially when trying new poses.

What to wear: Wear lightweight, non-restrictive clothing. Many women wear leggings and t-shirts. Yoga is practiced with bare feet; please do not wear socks during class because this can pose a risk of slipping and falling. Some women like to put on socks and pullovers before relaxation.

Equipment: Start each class with a sticky mat, a bolster and a blanket. Check with your teacher to see if equipment is provided.
Regular Practice: Pregnant women should get regular exercise a minimum of 3 times a week. Exercising less than this or exercising sporadically can actually be harmful. If you can’t make it to yoga class three times per week, talk to your instructor about at-home exercises and prenatal yoga videos. Swimming and brisk walking are great exercise options during pregnancy.

Get off your back: The American College of Obstetricians and Gynecologists cautions women about exercising on their backs after 12 weeks because reduced cardiac output coupled with the weight of the uterus which can restrict blood and oxygen flow to the fetus. Other experts give similar cautions ranging from 12 to 20 weeks depending on maternal weight gain and uterus size. Mamaste Yoga instructors do not teach supine (back-lying) postures to 2nd and 3rd trimester students.

Food & Water: Please eat a small snack of complex carbohydrates and/or protein, 30 minutes to 1 hour before class to prevent blood sugar from falling. Also bring a bottle of water to class to sip on occasionally. Normally the stomach and bladder should be empty before practicing yoga, mainly because many postures increase intra-abdominal pressure and can cause problems. We do not do these postures in prenatal classes so it is fine to eat lightly before class and drink water during class. Please do empty the bladder before class and feel free to visit the bathroom as often as needed during class.

Listen to Your Body: You must remember during any exercise, should you feel uncomfortable, discontinue the movement. You must listen to your body. If it’s tired or fatigued, do not push it. Your body is doing enough work creating your baby, be gentle with yourself. If an instructor holds a position too long, feel free to come out and rest in child’s pose. Report any pregnancy concerns to your health care provider. Stop exercising immediately and contact your physician/midwife if you experience any of the following:

• Vaginal bleeding
• Fever of 100 degrees or higher
• Uterine contractions with 20 minute or shorter intervals
• Vomiting more than a few times in 1 hour
• Sudden dimmed or blurred vision
• Sudden dizziness or faintness
• Severe persistent headache
• Leaking of fluid from vagina
• Reduced fetal activity
• Sudden swelling (edema)
• Frequent burning urination
• Pain of any kind: back, pubic bone, chest, abdominal
• Heart rhythm abnormalities
• Shortness of breath not associated with exercise

If your baby is still breech (in a head up position) after 35 weeks, your instructor can give you some gentle postures to do at home that have been known to facilitate turning. Regardless of whether your baby has turned, we do not recommend that you practice full, unsupported squats after 35 weeks; you may practice them on a bolster. When labor begins, you may return to full squats if you feel like it.

© Karen Prior

Karen Prior’s impressive breadth of knowledge in the therapeutic uses of yoga, nutrition and prenatal fitness is backed by solid credentials: she is a registered yoga teacher with the Yoga Alliance, a member of the International Association of Yoga Therapists, a clinical nutritionist and a retired La Leche League leader. Karen runs a Registered Yoga School, where she offers specialized training in prenatal yoga and yoga for children through her programs MamasteYoga and Let’sPlayYoga. Karen lives in Texas with her husband and young daughter.

Oils in Bath Products May Enlarge Boys’ Breasts… Temporarily


BOSTON - Lavender and tea tree oils found in some shampoos, soaps and lotions can temporarily leave boys with enlarged breasts in rare cases, apparently by disrupting their hormonal balance, a preliminary study suggests.

While advising parents to consider the possible risk, several hormone experts emphasized that the problem appears to happen infrequently and clears up when the oils are no longer used. None of those interviewed called for a ban on sales.

The study reported on the condition, gynecomastia, in three boys ages 4, 7 and 10. They all went back to normal when they stopped using skin lotions, hair gel, shampoo or soap with the natural oils.

It’s unclear how often this problem might crop up in other young children.

Read the rest of the article at MSNBC.com.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA

Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit. Caranya dengan rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.

Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi dan balita relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit anak lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural kulit bayi dan balita belum berkembang dan berfungsi optimal sehingga diperlukan perawatan khusus.

Perawatan yang lebih menekankan pada pemeliharaan kulit ketimbang dekorasi ini diharapkan bisa meningkatkan fungsi utama kulit sebagai pelindung dari pengaruh luar tubuh. Perawatan kulit bayi dan balita bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari.

Misalnya dengan memandikan secara teratur, membersihkan rambut, dan mengganti popok atau baju pada saat tepat. Mandi misalnya, diwajibkan dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam memandikan, perhatikan hal-hal berikut: suhu air disesuaikan dengan umur anak, gunakan sabun bayi yang lunak, gunakan sampo bayi untuk membersihkan rambut, keringkan badan dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit, dan berikan bedak dengan sapuan tipis.

Soal pakaian bayi sebaiknya dari bahan lembut dan selalu bersih. Dengan memperhatikan pakaian yang digunakan berarti kita telah berupaya menghindari timbulnya gangguan. Pada sebagian anak penggunaan pakaian berbahan nilon atau wol bisa menimbulkan gatal-gatal di seluruh tubuh. Bahan katun yang gampang menyerap keringat haruslah menjadi pilihan pertama bagi anak berkulit peka.

Pemeliharaan kulit itu bisa dilakukan dengan menggunakan bermacam kosmetika bayi yang beredar saat ini. Sebagian berfungsi untuk membersihkan kulit misalnya sabun dan sampo; melembapkan dan pelindung terhadap sinar matahari seperti losion, krim, dan minyak khusus.

Penggunaan kosmetika berupa sabun, sampo, losion, minyak khusus untuk bayi perlu dipilih yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi kulit bayi. Misalnya dengan mencermati zat warna dan bahan-bahan pengawet yang mungkin saja tidak sesuai dengan kulit bayi. Juga apakah pH-nya sesuai dengan kulit bayi.

Memilih dan menggunakan kosmetika pada bayi dan balita secara benar dan tidak berlebihan merupakan langkah utama menjaga kesehatan kulit. Oleh karena itu, banyaknya informasi tentang produk kosmetika bayi dan balita dewasa ini harus lebih dicermati oleh orang tua.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA 1

Eksim popok
Selain perawatan kulit rutin, para orang tua perlu memperhatikan perawatan kulit yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orang tua.

Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.

Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari.

Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam faeces bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak begini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Usap semua bekas faeces dari badannya, balur dengan krim pelindung. Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari.

Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi. Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin.

Sebelum pemakaian popok usapkan krim pelindung kulit. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida - jamur yang biasa muncul di usus. Dalam hal itu periksakan ke dokter, yang mungkin memberi krim khusus dan juga obat khusus untuk melawan infeksinya. Soal pilihan penggunaan popok kain atau popok sekali pakai tak jadi soal. Dari segi kesehatan keduanya sama-sama sehat. Yang penting jangan sampai terlambat mengganti.

Untuk popok kain tentu harus segera diganti bila terlihat basah. Tetapi untuk popok sekali pakai frekuensi penggantiannya didasarkan atas daya tampungnya. Misalnya dengan melihat apakah popok sekali pakai itu sudah tampak menggelembung atau menggantung. Jika sudah, maka harus segera diganti.

Setiap kali akan mengganti popok, bagian pantat bayi dan sekitarnya harus dibasahi. Kemudian bagian tadi dikeringkan, baru diberi bedak. Sering dianjurkan pemakaian baby oil pada bagian ini, untuk menjaga air seni tidak mudah meresap ke dalam kulit. Tentu saja baby oil ini harus diteteskan lebih dulu pada segumpal kapas.

CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA 2

Pada bayi perempuan, membersihkannya harus dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. Sedangkan pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah.

Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penting dicatat pula, bahwa dari berbagai penelitian terbukti bukan air susu ibu (ASI) penyebabnya. Bahkan, ASI sendiri mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi.
Namun, nama eksim susu telah telanjur melekat sehingga tetap dipertahankan. Sementara istilah kedokterannya adalah dermatitis atopik (eksim di tempat yang tidak biasanya).

Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.

Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering.

Biang keringat
Biang keringat juga merupakan keluhan umum yang sering ditemukan pada bayi dan balita. Biang keringat atau sering disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian. Gejala utama adalah gatal, dapat disertai kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil. Penyakit ini biasa kambuh berulang, terutama bila udara panas dan berkeringat, sehingga menimbulkan masalah pada bayi, balita, maupun orang tua. Penyakit ini dapat dicegah dengan perawatan rutin, misalnya mandi dengan teratur dan membasuh anak yang berkeringat dengan lap basah sebelum dikeringkan dan diberi bedak.

Seringkali terjadi bintik-bintik merah (ruam) pada leher dan ketiak bayi. Keadaan ini disebabkan oleh peradangan kulit pada bagian tersebut. Bisa disebabkan karena bagian ini tidak kering betul ketika dilap dengan handuk sehabis memandikannya. Apalagi jika si bayi gemuk, sehingga leher dan ketiaknya berlipat-lipat.

Ruangan dengan ventilasi udara cukup sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam ruangan lancar. Dari kasus-kasus biang keringat pada bayi dan balita, hampir 70% nya bisa diatasi bila pergerakan udara dalam ruangan lancar sehingga kamar terasa sejuk.

Lepas dari soal kesehatan, perawatan kulit pada bayi dan balita sebenarnya mengekspresikan rasa cinta orang tua kepada buah hatinya. Sentuhan mereka akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seorang anak. (G. Sujayanto)

Mengajak si kecil ke dokter

Untuk melakukan imunisasi, maupun untuk mengobati bayi dan balita yang sedang sakit, kadang-kadang diperlukan ‘perjuangan’ yang lumayan berat. Bagi bunda yang buah hatinya masih bayi, membawa anak ke dokter tidak sulit. Namun, balita yang beranjak besar biasanya mengerti bahwa ia akan dibawa ke dokter. Reaksi masing-masing tentu berbeda, namun takut dan enggan umumnya adalah perilaku yang sering ditemui.

Lantas, bagaimana caranya supaya si kecil merasa nyaman dibawa pergi ke dokter? Menurut Dr. Katie Lawhead, spesialis anak dari Children’s Medical Center Child Life di Medical College of Georgia, Amerika Serikat, kunjungan ke dokter sebaiknya digambarkan sebagai suatu petualangan yang mengasyikkan.

Karena itu, menakut-nakuti anak dengan mengatakan, “Awas, nanti kamu dibawa ke dokter!” ketika balita sedang melakukan kenakalan adalah suatu hal yang harus dihindari. Sebab, kalimat ini justru bernada negatif alias menunjukkan bahwa pergi ke dokter adalah sesuatu yang akan terjadi bila ia nakal.

Oleh karena itu, kunjungan ke dokter sebaiknya dideskripsikan sebagai suatu perjalanan yang bernilai positif. Selain itu, balita juga perlu diberi gambaran bahwa dokter adalah sosok yang baik hati dan mau membantu anak-anak untuk sembuh dari penyakitnya.

Tip lain agar anak tidak takut melakukan kunjungan ke dpkter adalah:
Memberi penjelasan kepada si kecil mengapa harus berkunjung ke dokter dan apa saja yang akan dilakukan dokter.

Sesekali, ketika anak tidak sakit, ajak dia ke ruang praktek dokter atau rumah sakit dan carilah sesuatu yang membuat dia senang, misalnya gambar-gambar lucu di dinding, atau alat mengukur tinggi badan, dan sebagainya.

Kalau diizinkan dokter, ketika anak sedang diperiksa, biarkan ia memegang peralatan dokter yang tidak berbahaya, umpamanya stetoskop dan jelaskan fungsinya. Anda juga bisa meminta dokter anak yang memberi penjelasan.
Izinkan si kecil membawa boneka kesayangannya bila perlu.

Kalau harus disuntik, ungkapkan bahwa menyuntik adalah suatu cara untuk memasukkan obat ke dalam tubuh, dan bekerja secara cepat. Jangan berbohong dengan mengatakan suntik itu tidak sakit. Sebaliknya, katakana bahwa disuntik memang sakit, tapi hanya sebentar sekali. Bila ia takut, katakan bahwa Anda akan memeluknya erat-erat.

Ketika dokter melakukan tindakan dan si kecil terkesan ketakutan, alihkan perhatiannya kepada hal-hal yang lucu, umpamanya gambar bebek berbaris di dinding ataupun ikan di akuarium yang berada di kamar praktek dokter anak. Dokter anak yang cerdas kerap menghiasi dinding ruang prakteknya dengan hal-hal yang mengesankan dan menyenangkan anak.Bila si kecil ‘lulus’ dan telah diperiksa dokter, berikan ia reward, baik itu pujian maupun hadiah lain yang disukainya. (hannie)

Memberikan obat pada anak-anak

Ketika bayi Anda sudah sedikit lebih besar, pemberian obat bisa jadi masih menjadi masalah. Berikut trik yang bisa Anda lakukan:
  1. Mintalah anak menutup lubang hidung saat meminum obat agar rasa obat tak terlalu keras.
  2. Campurlah obat, terutama yang berupa tablet, dengan sirup atau madu agar tak terasa pahit.
  3. Jangan larutkan obat dengan air di gelas karena ada kemungkinan obat mengendap dan tak terminum si anak.
  4. Mintalah anak untuk menggosok gigi setelah meminum obat yang manis agar tidak menempel di gigi.

Ketika si Kecil Sakit

Daya tahan tubuh yang menurun terjadi ketika si kecil gampang jatuh sakit. Yang paling mencemaskan Bunda bukan hanya kondisi tubuhnya, tapi juga ketika bayi dan balita menolak ketika akan diberi obat. Hal ini tentu akan berdampak pada kesembuhannya. Untuk itu, diperlukan trik mengatasinya.

1. Gendonglah bayi dengan posisi kepala lebih tinggi dari badan, agar ia tidak tersedak.
2. Karena bayi susah diam, Anda bisa membungkus tangan dan tubuhnya dengan selimut agar tak mengganggu proses pemberian obat. Bila perlu, mintalah bantuan orang dewasa lain untuk memeganginya.
3. Bila bayi memuntahkan obat yang diberikan kepadanya, ulangi pemberian dengan meminta bantuan orang dewasa lain untuk membuka mulutnya dengan lembut.
4. Obat dalam bentuk cair bisa diberikan dengan bantuan sendok atau pipet.
5. Pemberian obat tetes untuk hidung, mata, dan telingapada bayi juga perlu kiat khusus:

Obat tetes hidung:
Tengadahkan sedikit kepala bayi. Perlahan teteskan obat ke setiap lubang hidung.Hitung jumlah tetesan yang masuk ke hidung. Dua atau tiga tetes biasanya sudah cukup.

Obat tetes mata:
Miringkan sedikit kepala bayi, hingga mata terinfeksi berada di bawah. Dengan cara ini tetesan obat tak mengalir masuk ke mata sehat.Perlahan tariklah kelopak mata bawah agar obat dapat mudah mengalir.

Obat tetes telinga:
Baringkan bayi pada salah satu sisi dengan lubang telinga terinfeksi berada di atas. Teteskan obat ke dalam lubang telinga yang sakit.Buat bayi tetap diam agar obat benar-benar masuk ke lubang telinga bagian dalam.

Sebelum obat tetes tersebut diberikan, ada baiknya hal-hal berikut ini diperhatikan:
1. Rendam obat tetes dengan posisi tegak dalam tabung berisi air suam-suam kuku selama beberapa menit, agar ketika diteteskan dan masuk ke lubang hidung atau telinga, anak tidak terlalu kaget.
2. Jangan sentuhkan obat tetes ke hidung, telinga, atau mata, agar bakteri tidak berpindah ke dalam botol obat.
3. Perhatikan batas waktu pemakaian obat itu. Obat kadaluwarsa akan memperburuk peradangan atau kondisi bayi yang diobati.
 

wall-boa-2

wal-abpras-1