Apa Yang Anda Dapatkan

informasi tentang masa-masa kehamilan anda, perkemabangan janin dalam tubuh anda. tumbuh kembang buah hati anda hingga berusia 3 tahun. hal-hal apa saja yang perlu anda perhatikan bagi anak anda. 3 tahun pertama kehiupan mereka akan menjadi masa-masa kritis yang menentukan masa depan mereka kelak.

Saya, Elka Anastasia

adalah seorang ibu dengan 3 putra berusia balita semua, ingin berbagi tentang masa kehamilan dan mengasuh ketiga 'jagoan' kecil saya. baik pengalaman pribadi maupun referensi yang saya dapatkan dari masa tumbuh kebang para 'jagoanku' di 3 tahun pertama kehidupan mereka. Semoga bermanfaat...

Merangsang Si Kecil Berkembang Optimal

Siapa pun yang sudah berstatus sebagai orang tua pasti ingin buah hatinya dapat berkembang dengan optimal dan menjadi cerdas serta terasah kreatifitasnya. Bicara tentang kecerdasan anak, memang tidak bisa lepas dari kaitan kecerdasan multiple.

Kecerdasan multiple adalah berbagai jenis kecerdasan yang dapat dikembangkan pada anak. Bentuknya pun beragam, mulai dari kemampuan menguraikan pikiran dalam rangkaian kalimat, presentasi, pidato, diskusi, lalu kemampuan menggunakan logika matematik dalam memecahkan berbagai masalah. Kemampuan berpikir tiga dimensi, kemampuan memahami dan mengendalikan diri sendiri. Ketrampilan gerak , menari , dan olah raga. Kepekaan dan kemampuan berekspresi dengan bunyi , nada, melodi, dan irama. Kemampuan memahami dan memanfaatkan lingkungan.

Kecerdasan otak akan berkembang pesat jika dicukupi kebutuhannya sejak di dalam kandungan sampai usia sekolah dan remaja. Selain memenuhi kebutuhan fisik-biologis terutama gizi yang baik sejak dalam kandungan sampai remaja, pencegahan dan pengobatan penyakit yang dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan ketrampilan fisik untuk melakukan aktivitas sehari-hari, kebutuhan akan kasih sayang yang memberikan rasa aman, terlindungi, dihargai, dan diperhatikan juga penting. Selain itu, kebutuhan akan stimulasi, sedini mungkin sejak dalam kandungan secara terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua sistem sensorik dan motorik.

Merangsang bayi baru lahir, sejak janin usia 6 bulan dalam kandungan dapat dilakukan setiap hari .Stimulasi dini memang dapat merangsang kecerdasan multiple karena sel otak janin mulai dibentuk saat usia 3-4 bulan dalam kandungan. Setelah lahir, sampai usia 3 – 4 tahun jumlahnya bertambah cepat mencapai milyaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel.mulai kehamilan 6 bualn , terbentuk hubungan antar sel, sehingga terbentuk rangkaian fungsi – fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel otak ditentukan oleh stimulasi yang diberikan pada anak.

Yang dapat dilakukan sebagai bentuk dari stimulasi dini dan perangsangan kecerdasan antara lain adalah :
- 0-3 bulan
Bunyikan berbagai suara atau musik bergantian , membuat benda berbunyi, serta menggantung dan menggerakkan benda berwarna mencolok

- 3 – 6 bulan
Ajak bermain cilukba

- 6 – 9 bulan
Panggil namanya, ajak bersalaman, bermain tepuk tangan, membacakan dongeng, melatih duduk, serta berdiri berpegangan

- 9 – 12 bulan
Coba rangsang dengan mengulang nama anggota keluarga, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, mengelindingkan bola, dilatih berdiri dan berjalan dengan berpegangan.

- 12 – 18 bulan
Menggambar, mencoret–coret, menyusun kubus, bermain puzzle sederhana, bermain boneka, berjalan tanpa berpegangan, naik turun tangga, melepas celana, mengerti dan melakukan perintah sederhana, menyebut dan menunjuk benda–benda

z 18 – 24 bulan
Menyebut dan menunjuk bagian tubuh, nama binatang dan benda, bicara (mencoba cerita) tentang kegiatan sehari – hari seperti makan , minum , mandi , main , serta bermain bola, melompat, memakai celana baju, dan mencuci tangan.

z 2 – 3 tahun
Menyebutkan nama teman dan warna, berhitung, menyikat gigi, bermain boneka, masak-masakan, menggambar, berdiri satu kaki. Selain itu juga perangsangan untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak–anak, bermain puzzle, angka, halma, congklak, kartu, monopoli, computer baik dilakukan

Gemar MEMBUNGKUS Inilah bekal untuk kemampuan menulis.

Kebanyakan anak batita memiliki "hobi" ini, yaitu bungkus-membungkus. Apa saja dibungkusnya, dari mainan miliknya sampai lipstik sang bunda. Kebiasaan ini lebih banyak disebabkan peniruan.
"Anak batita adalah peniru ulung," kata Tri Novida, Psi. Di rumah tanpa sadar misalnya, kita secara tak langsung mengajarkan hal itu saat membungkus kado untuk hadiah ulang tahun atau bingkisan lainnya.

Peniruan muncul karena anak pun sedang mengembangkan kemampuan motorik halusnya. Ia senang dan bangga mempraktikkan kemampuan baru apa pun termasuk membungkus. Bagaimana sebuah benda yang tadinya ada kini tidak tampak di balik pembungkusnya. Anak jelas senang melihat akibat dari pekerjaannya. Belum lagi respons dari lingkungan yang cenderung mendukung. Anak pun jadi ingin mengulang-ulang kebiasaan itu.

CARA MENGARAHKAN
Intinya, kegemaran membungkusi barang adalah hal positif. Karenanya, tak perlu dilarang. "Justru harus diarahkan!" tambah psikolog dari Aditya Medical Centre ini mengingat manfaatnya. Yang pertama, kemampuan motorik halus anak lebih terasah. Anak terbiasa mengoordinasikan jari agar benda itu terbungkus seluruhnya. Kemampuan ini sangat penting saat anak mendapat pelajaran menulis nanti. Bahkan, kemampuan ini harus dipupuk agar terus berkembang.

Hingga saat anak menginjak taman kanak-kanak, dia bisa meningkatkan kemampuan motorik halusnya. Yang asalnya cuma mengremesi benda kecil, kemudian jadi membungkus kado dengan rapi. Di beberapa sekolah, anak diajarkan bagaimana cara membungkus kado, menggunting pita, dan lain-lain. Keterampilan itu sangat digemari.

Manfaat kedua, kreativitas anak lebih berkembang. Ia bisa mengetahui, ternyata mainannya bisa diubah bentuknya lewat kertas koran. Kreativitas ini sangat diperlukan saat anak beranjak besar nanti. Anak tidak kaku dalam memandang sesuatu. Ia juga pandai mencari celah sehingga bisa mengubah benda biasa menjadi berguna, dan sebagainya.

Memang, perilaku ini bisa membuat ruangan kotor. Tempat bermain anak dipenuhi serakan tisu dan robekan koran. Meski begitu, jangan sekali-kali melarang atau memaksa anak untuk membersihkannya. Alih-alih menurut, paling-paling ia menolak. Makin dipaksa, makin memberontak.

Yang dapat dilakukan orangtua adalah meminimalkan kekacauan yang terjadi di rumah. Cobalah untuk memfasilitasi dan mengarahkannya, misal, dengan menyediakan koran bekas untuk kegiatan bungkus-membungkus. Juga, sediakan benda-benda apa saja yang boleh dibungkus. Namun, beberapa pernak-pernik milik orangtua, harus disimpan rapi dan diletakkan di tempat yang tak terjangkau anak. Batasi juga mainan yang hendak dibungkus dengan memberikan beberapa mainan saja kepada anak. Dengan begitu, orangtua membatasi tanpa perlu mengekang kreativitas anak.

Lebih baik lagi jika kebiasaan itu dibuat lebih kreatif agar kecerdasan imajinasi anak makin berkembang. Umpama, anak membayangkan sebagai penjual mainan sementara pengasuh atau orangtua sebagai pembelinya. Lakukan transaksi layaknya jual beli di pasar, "Ibu beli satu ya, Bang." Berikan beberapa lembar uang (dari koran) kepada anak, dibarengi penyerahan bungkusan mainan. Dengan begitu, acara bungkus-membungkus jadi lebih bermanfaat. Anak bisa berimajinasi sebagai penjual, disamping dia juga mengetahui adanya uang sebagai alat pembayaran.

Selain kemampuan berbicara anak juga lebih terasah. Mungkin saja anak tidak melakukan dialog, tapi setidaknya anak bisa menangkap dan memahami perkataan orangtuanya. Agar kemampuan sosialisasi anak ikut bertambah, cobalah ajak beberapa temannya untuk melakukan kegiatan bungkus-membungkus. Biasanya anak lebih senang dan menikmati kegiatannya.

Usai main bungkus-membungkus, minta anak membuka bungkusan itu. Dengan membungkus dan membuka, niscaya kemampuan motorik halus anak makin terasah. Tak kalah penting, ajar anak untuk membereskan mainannya kembali. Tentu bukan dengan sekonyong-konyong menyuruh anak membereskan mainan, melainkan melalui ajakan, "Yuk, kita bereskan mainan itu bersama, Ibu masukkan ini ke wadah, Adek masukkan mainan yang itu ya." Dengan begitu, anak tak merasa dipaksa dan mau menuruti apa yang Anda minta.